Akhir dari Cerita Panjang Negosiasi Perbatasan antara Indonesia dan Filipina

Dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, yang diratifiksi oleh kedua negara, Indonesia meratifikasi konvensi ini di tahun 1986 dan Filipina di tahun 1984. Di bagian V UNCLOS menjelaskan 200 Nautical mile EEZ untuk Filipina-Indonesia karena kedua negara ini adalah negara kepulauan (archipelagic states), menyebabkan dua negara ini saling overlap border di laut Mindanao dan laut Celebes, pasal 74 UNCLOS menyatakan penetapan batas EEZ harus berdasarkan kesepakatan dua negara. Oleh sebab itu Indonesia dan Filipina menyelenggarakan Maritime Boundary Delimitation (MBD) discussion between the Republic of Indonesia and the Republic of Philippines yang dilakukan pertama kali pada tahun 1994 sampai kesepakataan terakir di tahun 2014.

Dengan menandatangi “Agreement Concerning the Delimitation of the Exclusive Economic Zones” tanggal 23 May 2014 di Manila, permasalahan zona ekonomi ekskusif perbatasan antara Indonesia dan Filipina terselesaikan setelah 20 tahun lamanya negosiasi tentang EEZ antara dua negara.

Dalam kesepakaatan ini menjelaskan garis koordinat batas antara dua negara, yang mana garis batas koordinat dua negara ini terdapat di laut Mindanao dan laut Celebes di bagian selatan Filipina, dan pulau terluar Indonesia adalah pulau Miangas (island of Palmas), 145 mil dari kecamatan Nanusa sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil. Selain itu, dengan adanya kesepakatan ini, kedua negara mendirikan reciprocal building dimana Indonesia memiliki tiga pos perbatasan di Filipina, yaitu di Bongao, Tawi-Tawi, Batu Ganding, Pulau Balut dan Tibanban. Sedangkan Filipina memiliki tiga pos di Indonesia, yaitu di Tarakan, Marore dan Miangas.

RATU

Leave a Reply