Penjelasan Mengenai Penuntutan


Proses pemeriksaan perkara di Indonesia terdiri dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan. Sebelum melakukan penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum untuk dapat dilakukannya pemeriksaan di pengadilan penuntut umum harus siap dengan surat dakwaan dengan dasar dari hasil penyidikan yang mendukung.

Ketentuan penuntutan diatur didalam Pasal 1 butir 7 yang menyatakan “Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan di putus oleh hakim di sidang pengadilan”. Sedangkan menurut Wirjono Projodikoro adalah “Menuntut seorang terdakwa di muka hakim pidana adalah menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas perkaranya kepada hakim, dengan pemohon, supaya hakim memeriksa dan kemudian memutuskan perkara pidana itu terhadap terdakwa”. Pasal 137 KUHAP memberikan ketentuan mengenai wewenang Penuntut Umum “Penuntut Umum berwenang melakukan penuntutan terhadap siapa pun yang di dakwa melakukan suatu delik dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke pengadilan yang berwenang mengadili”. Menurut E. Bonn-Sosrodanukusumo, seorang jaksa mempunyai daerah hukum masing-masing sesuai dengan daerah hukum kejaksaan negeri dimana dia diangkat.

Mengenai adanya kebijakan oleh penuntut umum, penuntut umumlah yang menentukan suatu perkara hasil penyidikan apakah sudah lengkap ataukah tidak untuk dapat dilimpahkan ke pengadilan negeri untuk diadili, hal ini diatur dalam pasal 139 KUHAP. Jika perkara tidak cukup bukti-bukti untuk diteruskan ke pengadilan ataukah perkara tersebut bukan merupakan suatu delik, maka penuntut umum membuat suatu ketetapan sebagaimana yang telah diakomodir dalam Pasal 140 ayat (2) butir a KUHAP. Lalu isi surat ketetapan tersebut di beritahukan kepada tersangka dan bila tersangka di tahan wajib di bebaskan (Pasal 142 ayat (2) butir b). selanjutnya turunan dari ketetapan tersebut wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum, pejabat rumah tahanan negara, penyidik dan hakim atau turunan ketetapan ini biasa disebut Surat Penghentian Penuntutan.

Di samping wewenang tersebut di atas terdapat wewenang penuntut umum untuk menutup perakara demi hukum yang di atur dalam Pasal 140 ayat (2) butir a, pelaksanaan KUHAP member penjelasan bahwa “ perkara di tutup demi hukum” di artikan sesuai dengan Buku I KUHP Bab VII tentang hapusnya hak menuntut tersebut yaitu non bis in idem, terdakwa meninggal, dan lewat waktu. Namun terhadap perkara yang telah dikesampingkan oleh penuntut umum karena kurangnya bukti-bukti, apabila ditemukan adanya suatu alasan baru untuk menuntut perkara yang telah dikesampingkan tersebut, maka penuntut umum dapat menuntut tersangka (Pasal 140 ayat (2) butir a).

Adanya ketentuan penggabungan dan pemisahan perkara dalam sebuah penuntutan yang dilakukan penuntut umum. Penuntut umum berdasarkan Pasal 141 dapat melakukan penggabungan perkara dengan satu surat dakwaan. Tetapi hal tersebut dibatasi dengan syarat :

  1. Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya
  2. Beberapa tindak pidana yang bersangkut-paut dengan yang lain;
  3. Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut-paut satu dengan yang lain, akan tetapi satu dengan yang lainnya itu ada hubungannya, yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu untuk kepentingan pemeriksaan.

Sedangkan pemecahan perkara atau Splitsing dalam penuntutan oleh penuntut umum yaitu pemecahan perkara menjadi lebih dari satu, sebagaimana ketentuan Pasal 142 KUHAP “Dalam hal penuntut umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan pasal 141, pentuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah”.
———————
Sumber
KUHAP
Jur Andi hamzah, hukum acara pidana Indonesia edisi II, sinar grafika : 2008.

Bagaimana reaksi Kamu tentang artikel ini ?


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

Penjelasan Mengenai Penuntutan

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles