Alih Fungsi Trotoar


Berdasarkan pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) menyatakan bahwa trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung penyelnggaraan lalu lintas dan angkutan jalan diantara fasilitas-fasilitas lainnya seperti: lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan/atau fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut. Dalam kata lain, trotoar juga merupakan perlengkapan jalan. Lebih lanjut dapat dilihat dalam pasal 25 ayat (1) huruf h UU LLAJ yang menjelaskan bahwa setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi oleh perlengkapan jalan. Sedangkan pengertian trotoar menurut Kementerian Pekerjaan Umum adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan sumbu jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang bersangkutan.

Fungsi trotoar diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan definisi setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas jalan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan. Kemudian ditegaskan kembali ke dalam pasal 34 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan bahwa, trotoar hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki. Secara umum, pembangunan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki berfungsi untuk memfasilitasi pergerakan pejalan kaki dari satu tempat ke tempat lain dengan lancar, aman, dan mudah. Selanjutnya apabila fungsi umum tersebut dikaji secara detail diperoleh 5 (lima) fungsi prasarana dan sarana pejalan kaki, sebagai berikut: 1) Jalur penghubung antarpusat kegiatan atau blok ke blok; 2) Ruang interaksi sosial; 3) Pendukung keindahan dan kenyamanan kota; 4) Jalur evakuasi bencana; 5) Bagian dari pergantian moda pergerakan lainnya. Diantara kelima fungsi tersebut, fungsi pertama merupakan yang paling mendasar dan penting mengingat trotoar adalah perlengkapan jalan. Selain itu, aspek keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki juga merupakan poin penting dari fungsi dan manfaat prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki.

Berkaitan dengan trotoar sebagai perlengkapan jalan, terdapat larangan kepada setiap orang untuk melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi jalan. Ketentuan mengenai larangan tersebut diatur ke dalam pasal 28 ayat (2) UU LLAJ, dengan disertai pula 2 macam sanksi bagi pelanggarnya yaitu; 1) Ancaman pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) bagi setiap orang yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan; 2) Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi fasilitas pejalan kaki dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Kedua macam sanksi tersebut diatur dalam pasal 274 ayat (2) dan pasal 275 ayat (1) UU LLAJ.

Akan tetapi pada realitanya, larangan tersebut seringkali tidak diindahkan. Sebagai contoh dikutip dari news.detik.com, Jumat (5/8/2016) trotoar atau sering disebut dengan pedestrian di Jakarta sudah banyak yang beralih fungsi. Ruang pejalan kaki di jalan-jalan besar seperti Sudirman-Thamrin dan Jakarta Pusat sudah teratur dan sangat nyaman. Tapi di ruas jalan lain masih ngawur seperti masih dijadikan tempat berjualan, lahan parkir, dan bahkan sejumlah pengendara motor nekat menaiki jalur trotoar untuk menghindari kemacetan. Sungguh hal yang memprihatinkan. Tidak hanya di Jakarta, menurut pantauan tribun-medan.com, Selasa (5/4/2016) di beberapa trotoar di kota Medan masih dijadikan lahan parkir dan tempat usaha. Kondisi seperti inilah membuat para pejalan kaki menjadi sulit melintas dan terpaksa berjalan melewati jalan aspal. Apabila terus dibiarkan akan berdampak pada kondisi lalu lintas terlihat semrawut dan bahkan membahayakan para pejalan kaki.

Berbeda dengan kota Surabaya, trotar yang nyaman membuat warga kota terbesar kedua di Indonesia nyaman berjalan kaki. Fasilitas pedestrian semakin diperlebar dan dipercantik dengan adanya tanaman hijau dan pepohonan yang rindang untuk memayungi para pejalan kaki. Tak hanya itu, pembangunan pedestrian juga tak melupakan kepentingan kaum difabel khususnya bagi penyandang tunanetra dengan memberikan jalur khusus. Desain pemilihan keramik sebagai bahan pembangunan pedestrian dibedakan dengan ruang atau bidang lainnya. Ketersediaan jalur penyandang difabel diantaranya ada di Jalan Raya Darmo, Rajawali, Urip Sumoharjo (arah Darmo), Raya Gubeng, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Pemuda, serta Jalan Gemblongan.

Dengan demikian, fungsi trotoar tidak boleh diselewengkan dengan cara apapun. Alih fungsi pedestrian sebagai kios pedagang kaki lima, lahan parkir, tempat berlalu lalang motor, hingga yang dimiliki secara pribadi harus segera ditindaklanjuti. Penertiban secara terus menerus oleh Satuan Polisi Pamong Praja saja dirasa tidak cukup, sebab para pelanggar kerap kali melakukan pelanggaran yang sama alias bandel. Sehingga pada intinya, diperlukan koordinasi dan sinkronisasi antara pihak pemerintah dan kepedulian serta kesadaran pihak masyarakat untuk mengembalikan fungsi trotoar sebagaimana mestinya agar terhindar dari segala macam peralihan fungsi.


Dasar Hukum :

  • Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ);
  • Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

Bagaimana reaksi Kamu tentang artikel ini ?


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
1
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
1
Win
WTF WTF
0
WTF
Bernadetha Aurelia Oktavira
Seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS). Aktif dalam berbagai organisasi intrakampus, yaitu KSP "Principium" FH UNS, KMK FH UNS. Pernah mengikuti berbagai kompetisi Paper dan Karya Tulis Ilmiah. Selain itu, penulis aktif sebagai Anggota Paguyuban Lektor Gereja Purbowardayan Surakarta. Menaruh minat pada penulisan bidang Hukum Pidana, Hukum Tata Negara, dan Hukum Adat.

Comments 0

Alih Fungsi Trotoar

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles