Apakah Mem-fotokopi Buku Tergolong Sebagai Tindak Pidana?


Menurut UU No. 28 Tahun 2014, Menggandakan atau mem-fotokopi buku tanpa seizin dari penulis untuk kepentingan pribadi dan komersial merupakan suatu tindak pidana.

“Membaca berarti membuka jendela dunia” begitu kata kebanyakan orang. Namun, fenomena yang terjadi adalah rendahnya minat membaca saat ini, terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Karena hal ini terus terjadi, maka gejala ini mempengaruhi kurangnya minat seseorang terhadap buku dan berdampak pada maraknya perbuatan mem-fotokopi buku, karena memiliki buku dianggap sudah tidak penting lagi. Apalagi ditambah dengan keadaan dunia yang sudah semakin canggih, kapanpun dan dimanapun dapat meng-akses e-book secara gratis. Alasan lain terhadap maraknya perbuatan mem-fotokopi buku ialah harga buku asli yang dianggap terlalu mahal. Sehingga semakin mendukung terjadinya perbuatan yang juga dikenal dengan sebutan menggandakan buku ini.

Lalu, apakah mem-fotokopi buku tergolong sebagai tindak pidana?

Menurut Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, “Penggandaan adalah proses, perbuatan, atau cara menggandakan suatu salinan Ciptaan dan/atau fonogram atau lebih dengan cara dan dalam bentuk apapun, secara permanen atau sementara.” Pada hakikatnya, mem-fotokopi atau menggandakan buku itu tidak diperbolehkan dan merupakan suatu perbuatan tindak pidana. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 ayat (3) UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta bahwa, “Setiap Orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dilarang melakukan Penggandaan dan/atau Penggunaan Secara Komersial Ciptaan.”

Namun, terdapat beberapa pengecualian terhadap perbuatan mem-fotokopi buku ini, seperti disebutkan dalam Pasal 44 ayat (1) huruf a UU No. 28 Tahun 2014 bahwa penggandaan untuk keperluan pendidikan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika menyebutkan sumbernya, dan sebagaimana juga disebutkan dalam Pasal 46 Ayat 1 UU No. 28 Tahun 2014 yaitu: “Penggandaan untuk kepentingan pribadi atas Ciptaan yang telah dilakukan pengumuman hanya dapat dibuat sebanyak 1 (satu) salinan dan dapat dilakukan tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta” dan Menurut Pasal 47 Huruf a UU No. 28 Tahun 2014 berbunyi, “Setiap perpustakaan atau lembaga arsip yang tidak bertujuan komersial dapat membuat 1 (satu) salinan ciptaan atau bagian ciptaan tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta.”

Namun, permasalahan selanjutnya justru timbul dari tempat fotokopi itu sendiri, di mana ada tempat fotokopi yang menggandakan buku-buku untuk kemudian di jual kembali. Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta, karena dilakukan untuk Penggunaan Komersial. Terkait dengan hal ini, Pasal 10 UU Hak Cipta menyebutkan, “Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya.” Pelanggar pasal 10 tersebut dapat dikenai pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (Pasal 114 UU Hak Cipta).

Mirip dengan mem-fotokopi buku, pembajakan buku atau lebih dikenal dengan “Pencetakan buku secara illegal yang kemudian dijual dengan harga jauh dibawah buku asli” juga termaksud dalam tindakan yang sangat dilarang sebagaimana tercantum jelas pada Pasal 113 ayat 4 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Jadi, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menggandakan atau mem-fotokopi buku tanpa seizin dari penulis untuk kepentingan pribadi dan komersial merupakan suatu tindak pidana. Tetapi mem-fotokopi dengan seizin penulis dan atau mem-fotokopi untuk kepentingan pendidikan bukan merupakan tindak pidana, asalkan sumber dan nama penciptanya tetap disebutkan dan memenuhi syarat-syarat seperti yang disebutkan dalam UU No. 28 Tahun 2014 tersebut.

Bagaimana reaksi Kamu tentang artikel ini ?

What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
2
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 1

  1. “Menurut UU No. 28 Tahun 2014, Menggandakan atau mem-fotokopi buku tanpa seizin dari penulis untuk kepentingan pribadi dan komersial merupakan suatu tindak pidana.”
    Sebagai tulisan hukum dan terlebih yang membaca adalah anak hukum, sebaiknya menggunakan kalimat yang jelas dan tidak menimbulkan kerancuan. Kalimat yg saya kutip diatas seolah-olah mengatakan bahwa sama sekali tidak boleh untuk memfotokopi buku. Padahal pada kenyataannya, (sebagaimana juga telah dijelaskan dalam isi artikel), penggandaan untuk kepentingan pribadi boleh dilakukan. Kemudian juga ada pengecualian dalam hal-hal tertentu seperti untuk pendidikan. Alangkah baiknya jika digunakan kalimat positif diawal artikel: memfotokopi buku boleh dilakukan asal blablablabla.
    Ini saran karena yang membaca situs hukum seperti ini, terutama dengan judul catchy seperti diatas, bukan hanya dibaca oleh anak hukum yg mengerti hukum, tapi juga awam, yang kadang2 pusing membaca artikel hukum. Sebaiknya pada kalimat2 yg dihighlight (italic, underline, atau bold) memberikan implikasi yang jelas dan tidak rancu serta positif. Kekuatan utama anak hukum hanyalah kata-katanya, sehingga sebaiknya artikel hukum-pun dibuat baik dan tidak sembarangan.
    Ini hanya saran untuk kebaikan bersama. Terima kasih.

Apakah Mem-fotokopi Buku Tergolong Sebagai Tindak Pidana?

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles