loading...

29 October 2016
Mengenal Lebih Dekat Gugatan Sederhana
Mengenal Lebih Dekat Gugatan Sederhana

Setiap orang dalam hidupnya hampir pasti pernah mengalami persoalan hukum perdata. Mulai dari hutang yang tidak dibayar, rusaknya barang pribadi oleh seseorang, hingga barang yang diterima tidak sesuai pesanan. Salah satu jalur yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah melalui pengadilan. Namun, persepsi dalam masyarakat terkait pengadilan adalah prosesnya rumit, membutuhkan biaya yang besar, hingga waktu yang lama. Sehingga, banyak masyarakat awam yang ‘enggan’ menempuh jalur pengadilan jika kerugian dari persoalan perdata yang dihadapi tidak terlalu besar. Menanggapi hal tersebut, maka dibentuk sistem acara gugatan sederhana.

Gugatan Sederhana adalah tata cara pemeriksaan di persidangan terhadap gugatan perdata dengan nilai gugatan materil paling banyak Rp 200 juta yang diselesaikan dengan tata cara dan pembuktiannya sederhana. Gugatan sederhana diajukan terhadap perkara cidera janji dan/atau perbuatan melawan hukum dengan waktu penyelesaian gugatan sederhana paling lama 25 (dua puluh lima) hari sejak hari sidang pertama. Acara gugatan sederhana ini diadopsi dari sistem peradilan small claim court yang salah satunya diterapkan di London, Inggris.

Tujuan dari hadirnya proses acara gugatan sederhana ini adalah untuk mempercepat proses penyelesaian perkara sesuai asas peradilan sederhana, cepat, biaya ringan. Selain itu, proses acara ini adalah salah satu cara untuk mengurangi volume perkara di Mahkamah Agung.

Ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu gugatan dapat diproses melalui acara gugatan sederhana. Pertama, nilai gugatan materil paling banyak Rp 200 juta. Kedua, perkaranya bukan termasuk kewenangan absolut pengadilan khusus dan bukan juga sengketa hak atas tanah. Ketiga, para pihak dalam gugatan sederhana terdiri dari penggugat dan tergugat yang masing-masing tidak boleh lebih dari satu, kecuali memiliki kepentingan hukum yang sama. Keempat, harus diketahui tempat tinggal dari tergugat. Dan kelima, Penggugat dan tergugat berdomisili di daerah hukum Pengadilan yang sama.

Ada beberapa tahapan dalam penyelesaian gugatan sederhana. Pertama, gugatan sederhana diperiksa dan diputus oleh Hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan. Lalu, tahapan penyelesaian gugatan sederhana yang meliputi: pendaftaran; pemeriksaan kelengkapan gugatan sederhana; penetapan Hakim dan penunjukan panitera pengganti; pemeriksaan pendahuluan; penetapan hari sidang dan pemanggilan para pihak; pemeriksaan sidang dan perdamaian; pembuktian; dan terakhir adalah putusan.

Perbedaan yang jelas antara gugatan sederhana dengan gugatan pada umumnya adalah nilai kerugian materiil yang lebih khusus ditentukan pada gugatan sederhana, yakni maksimal Rp 200 juta. Sedangkan pada gugatan pada perkara perdata biasa, nilai kerugian materiil tidak dibatasi besarnya. Di samping itu, gugatan sederhana ini diperiksa dan diputus oleh hakim tunggal dalam lingkup kewenangan peradilan umum.

Kasus gugatan sederhana di Indonesia pertama kali diprosed di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kasus yang mendapat nomor register 01/Pdt.G.s/2015/PN.Jkt-Sel tersebut, tercatat sebuah perusahaan jasa konsultan korporasi Smart Consulting sebagai penggugat. Perusahaan itu melayangkan gugatan kepada mantan kliennya PT Jasa Tambang Nusantara (PT JTN). Gugatan diajukan lantaran PT JTN dinilai lalai melunasi biaya jasa konsultan sebesar Rp96 juta. Menurut kuasa hukum Smart Consulting, Fairus Harris, pihaknya memilih untuk mengajukan gugatan sederhana karena ingin segera menuntaskannya. Ia menuturkan, gugatan perkara perdata pada umumnya membutuhkan waktu yang lama untuk sampai pada putusan akhir.

Bagaimana reaksi Kamu tentang artikel ini ?

Posted in Featured, Hukum AcaraTaggs:
Write a comment