Perbedaan Rekam Medis dengan Visum et Repertum dalam Pembuktian Perkara Pidana


Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan dan/atau dokumen mengenai identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien. Pengertian tersebut diatur didalam Pasal 46 Ayat (1) Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Ketentuan lebih lanjut mengenai rekam medis tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749a/Men.Kes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis. Rekam medis dibuat oleh dokter atau sarana kesehatan untuk kepentingan pasien, isi dari rekam medis tersebut adalah milik pasien yang antara lain berisikan mengenai identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan maupun tindakan yang dilakukan oleh dokter kepada pasien, sehingga dalam hal ini isi dari dokumen rekam medis tersebut merupakan privasi  pasien.

Dalam perkara pidana, penyidik dapat meminta salinan rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan yang menyimpannya sebagai pelengkap alat bukti yang diperlukan dalam perkaranya. Salinan rekam medis tersebut dapat dikategorikan sebagai alat bukti surat ketika dalam persidangan oleh hakim tidak dihadirkan dokter pembuat rekam medis tersebut guna dimintai keterangannya. Dapat juga dikategorikan sebagai alat bukti keterangan ahli ketika dokter yang bersangkutan dimintakan untuk hadir dalam persidangan guna menjelaskan isi dari rekam medis tersebut, serta salinan rekam medis tersebut dapat dikategorikan sebagai petunjuk, sepanjang dalam pemeriksaan isi rekam medis menunjukkan adanya persesuaian dengan alat bukti sah lainnya.

Sedangkan Visum et Repertum (VeR) adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan pro yustisia. Untuk dapat membuat visum et repertum, seorang dokter harus menunggu surat permintaan visum yang dibuat oleh pihak penyidik. Di dalam surat tersebut harus jelas tertulis mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan. Hal itu sesuai dengan pasal 133 KUHAP yang berbunyi:

(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Visum et repertum sebagai alat bukti dalam perkara pidana dapat dikategorikan sebagai keterangan ahli, surat dan petunjuk, namun berbeda halnya dengan rekam medis. Perbedaan antara rekam medis dengan visum et repertum adalah pada prosedur pembuatannya dan peruntukkannya. Visum et repertum pembuatannya harus memenuhi syarat formal, yaitu berdasarkan atas permintaan tertulis dari penyidik dan dibuat oleh dokter kepada korban dari suatu adanya tindak pidana. Rekam medis merupakan hasil pemeriksaan kesehatan oleh dokter atau sarana kesehatan yang dilakukan terhadap pasien untuk kepentingan pasien itu sendiri. sehingga demikian, keduanya dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah dalam perkara pidana, namun kedudukan visum et repertum lebih kuat daripada rekam medis, karena memang visum et repertum dibuat untuk pro justitia sedangkan rekam medis dibuat hanya untuk kepentingan pasien.

 

Referensi

  1. A. Triana Ohoiwutun. 2008. Bunga Rampai Hukum Kedokteran. Malang: Bayu Media Publishing.
  2. Soeparmono. 2002. Keterangan Ahli dan Visum Et Repertum dalam aspek hukum acara pidana. Bandung: Mandar Maju.
  3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
  4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF
Pekik Pramudika
Mahasiswa Strata-1 di Fakultas Hukum Universitas Jember dengan konsentrasi Jurusan Penegakan Hukum Pidana, tergabung dalam Criminal Law Student's Association (CLSA) University of Jember

Comments 0

Perbedaan Rekam Medis dengan Visum et Repertum dalam Pembuktian Perkara Pidana

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles