Pacaran Dimata Teori Hukum


Bagi sebagian besar anak hukum, belajar ilmu hukum itu susah. Gak segampang omongan ibu-ibu kompleks, “ihh hukuman jessica gak adil yah” atau celetukan anak fakultas lain, “anak hukum mah gampang, cuman hafalin undang-undang”. Believe me, its difficult. Saking susahnya nih belajar hukum, banyak anak hukum yang jadi malas belajar dan berharap suatu hari nanti sistem sogok masih diberlakukan untuk menduduki suatu jabatan. Oh God please forgive them.

Nah demi mempermudah pembelajaran ilmu hukum,  kali ini saya bakal menjelaskan pelajaran teori hukum dengan mengambil contoh “Pacaran”. Sebenarnya pembahasan ini terinspirasi dari munculnya tulisan “Simple Two Cows Defining…” di beberapa media luar negeri, dan belakangan ini juga tersebar broadcast “Tipe Kepribadian Dinilai Dari Cara Makan Tahu Goreng”. Psikolog Tahu Goreng ini mengkategorikan saya sebagai orang yang Obsesif-Kompulsif, karena sebelum makan dihitung dulu biar yakin jumlah tahunya sama dengan jumlah cabenya.

Oh iya tema pacaran saya pilih soalnya ini tema yang selalu ada di setiap sinetron, acara gosip sampai dengan stand up comedy. So, lets check this out !

Teori Hukum Alam

Menurut teori ini hubungan pacaran punya prinsip yang berlaku universal dan tak terbantahkan. “Cewek selalu benar”, “perhatian artinya sayang”, dan masih banyak lagi prinsip yang telah ada secara mutlak di dunia ini dan dipercaya oleh penganut teori ini dapat mengantarkan pada relationship goals.

Teori Positivisme Hukum

Teori yang dibangun om bule bernama John Austin ini diinspirasi oleh teori positivisme sains dari om bule lain bernama Auguste Comte. Pacaran dalam pandangan teori mereka ialah suatu hubungan formal yang dinyatakan secara tertulis antara si cowok dan si cewek.. Cinta, kasih sayang, perhatian, hanya dapat dianggap nyata jika diucapkan dan dituliskan kepada satu sama lain. Tidak ada perilaku yang boleh dilakukan sebelum disepakati secara tertulis terlebih dahulu secara bersama-sama. Bahkan untuk tidur pun harus sms, “good night syngg” terlebih dahulu, itu pun kalau diizinkan.

Teori Hukum Murni

Terdapat jenjang aturan-aturan dalam berpacaran, mulai dari harus panggil sayang, harus perhatian, hingga yang tertinggi harus mecintai satu sama lain atau disebut dengan istilah keren dalam teori ini sebagai grundnorm. Selanjutnya menjalin hubungan pacaran tidak perlu memandang status sosial, materi, umur, agama, dan hal-hal lain selain cinta diantara pasangan. Tidak ada pertimbangan lain kecuali cinta itu sendiri. Asas “Cinta Itu Buta” menjadi pedoman bagi Hans Kelsen, seorang pria bule tampan keturunan Yahudi yang pernah mempersiapkan Nuremberg trials untuk para Nazi Jerman sekaligus pencetus teori hukum murni.

 

Teori Hukum Progresif

Meskipun telah diperjanjikan sebelumnya pada saat awal-awal pacaran, namun teori ini melihat bahwa sah-sah saja melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan apa yang diperjanjikan demi menjaga kelangsungan hubungan pacaran. Sifat progresif dalam pacaran terkadang membawa suatu pasangan menjadi sudah berkeluarga padahal belum menikah.

Teori Realisme Hukum

 

Pacaran bukanlah hubungan formal, tapi suatu perilaku yang dijalani secara nyata dalam keseharian. Ada telpon-telponan malam hari, sms mesra di pagi harinya, pasangan yang dibawa pada saat kondangan dan tindakan pacaran lainnya. Melakukan berbagai tindakan tersebut dapat dianggap telah berpacaran meskipun belum pernah nembak.

Teori Hukum Responsif

Dilihat dari nama teorinya maka jelas bahwa pacaran dinilai sebagai respon atau tanggapan akan kebutuhan si cewek dan si cowok yang telah lama saling PDKT. Dalam menjalaninya pun pacaran harus bersifat terbuka, baik itu keterbukaan informasi demi merespon kebutuhan memperhatikan satu sama lain, maupun keterbukaan pakaian demi merespon kebutuhan seksual masing-masing. Yang penting dari teori ini ialah segala kebutuhan pasangan harus diakomodasi demi mencapai apapun yang menjadi tujuan dari pacaran itu sendiri.

Bagaimana reaksi Kamu tentang artikel ini ?


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
2
WTF
ZAINUL ALIM, S.H

-und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein-

Penulis merupakan alumni dari kampus almamater merah Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Sejak kuliah penulis aktif di dunia organisasi, pernah menjabat sebagai Sekbid PTKP HmI Kom. Hukum Unhas, Dept. Litbang HLSC, dan Pendiri Organ Studi Dan Aktualisasi Pancasila (ORASI) serta Pendiri Bosowa Royal Justice Society Universitas Bosowa. Selain itu penulis juga sering mengikuti lomba Moot Court Competition dan Debat Hukum tingkat nasional. Di CSH sendiri penulis merupakan Head of Research and Development Division, sembari menjalankan hobinya sebagai Lawyer di Zirah Law Firm.

Comments 0

Pacaran Dimata Teori Hukum

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles