Menelaah Kekeliruan Istilah “Makar” Dalam Hukum Pidana


 

Perbuatan yang dilakukan oleh Bintang Pamungkas dan beberapa orang lainnya menjadi viral di media sosial, mereka ditangkap oleh oknum dan hal tersebut menjadi sebuah perdebatan diduga telah melakukan ‘makar’ pada tanggal 2 Desember 2016. Penulis menemukan sebuah video di youtube, beliau melakukan pidato kepada masyarakat mengenai ketidakpuasannya terhadap pemerintahan Presiden Jokowi dan Kasus Ahok yang berkaitan dengan pasal penodaan agama. Sebelumnya, Bintang Pamungkas pernah ditahan berdasarkan Undang-Undang Subversi karena mendemo Presiden Soeharto  di Dresden, Jerman, tetapi ketika pencabutan Undang-Undang Subversi sementara dibahas di DPR, langsung dia dikeluarkan dari tahanan mungkin atas perintah Presiden Habibie.

Jika dikaji lagi mengenai istilah makar, beberapa masyarakat belum sepenuhnya memahami istilah tersebut. Istilah makar adalah terjemahan dari bahasa belanda “aanslag” yang ada di dalam KUHP, seperti Pasal 104 yang disalin dari Pasal 92 KUHP Belanda. Ketentuan aanslag berlaku bagi percobaan membunuh raja (Kalau di Indonesia Presiden dan Wakil Presiden), percobaan menggulingkan pemerintah dan percobaan memberontak terhadap negara. Jika buka kamus bahasa Belanda-Indonesia, aanslag artinya “percobaan membunuh”.

Dalam riwayatnya mengenai makar, pada tahun 1918 terjadi revolusi komunis di Rusia, Tzar Nicolas II dan seluruh keluarganya dibantai oleh komunis. Tzar Nicolas II Rusia ini masih sepupu denga Raja Inggris, yang tentu ada hubungannya dengan raja Belanda, Maka seluruh Eropa yang pada umumnya masih berbentuk kerajaan termasuk Belanda. Belanda ketakutan dalam revolusi tersebut maka Belanda membuat Undnag-Undang Anti Revolusi 28 Juli Tahun 1920, dalam hal tersebut mengenai percobaan membunuh raja, menggulingkan pemerintah, dan memberontak terhadap Negara Indonesia. 3 Unsur yang harus dipenuhi adalah : ada niat, ada permulaan pelaksanaan, dan tidak selesai di luar kemauan pelaku. Misalnya ada niat membunuh orang, ada pelaksanaan menembak ke arah orang itu, tetapi tidak kena. Inilah yang dimaksud dengan percobaan.

Embali lagi dalam UU Anti Revolusi tersebut, dikatakan perbuatan aanslag sama dengan percobaan tetapi dikurangi unsur ketiga “tidak selesai di luar kemauannya” yang berarti tidak selesai karena pelaku presiden, dia sudah tembak, tetapi pada detik terakhir dia berubah sikap lalu dia menembak sengaja tidak mengenai presiden, maka itulah yang disebut dengan “makar” atau aanslag. Sudah tentu itu bukan percobaan karena unsur ketiga “tidak selesai di luar kemauan pelaku”. Andai kata tidak ada Undang-Undang Anti Rvolusi, tentu orang itu tidak dapat dipidana karena tidak memenuhi unsur ketiga percobaan, jadi aanslag (makar) merupakan percobaan – unsur ketiga (tidak selesaidi luar kemauannya). Jadi, pada aanslag harus dibuktikan ada niat dan ada permulaan pelaksanaan. Jika perbuatan tersebut mengakibatkan raja (presiden) mati, maka dikenakan sanksi seumur hidup hingga sanksi hukuman pidana mati.

Sumber : Andi Hamzah, Delik-Delik Tertentu Dalam KUHP, Sinar Grafika, Jakarta, 2015.


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF
CalonSH
Calonsh.com as the biggest Indonesian law students' online forum in Indonesia is ready to give high dedication and contribution to the country in developing of law issues. Through simple and creative content but the ones which are educational and knowledgeable, we share accurate education, information, news and solution of law.

Comments 0

Menelaah Kekeliruan Istilah “Makar” Dalam Hukum Pidana

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles