Lagi, Hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu Ditangkap!


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT)
di Bengkulu. Ini merupakan OTT ketiga di Bengkulu sepanjang 2017. Sebelumnya, pada 9
Juni 2017, KPK menangkap Kasi III Intel Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Parlin Purba. Tak
sampai dua pekan, KPK melakukan OTT terhadap Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti.

Kali ini yang menjadi target KPK adalah Pengadilan Tipikor lagi. Karena OTT hakim
Pengadilan Tipikor Bengkulu ini bukan kali pertama. Pada Mei 2016, KPK pernah
menangkap Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang yang juga hakim Pengadilan Tipikor
Bengkulu, Janner Purba dan hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Bengkulu, Toton. Selain itu,
KPK juga menangkap panitera pengganti Badaruddin Bachsin alias Billy. Ketiganya secara
bersama-sama telah divonis bersalah karena terbukti menerima suap untuk mempengaruhi
putusan dari dua terdakwa kasus korupsi Honor Dewan Pembina RSUD, M Yunus Kota
Bengkulu TA 2011, Edi Santoni (mantan Wakil Direktur RSUD M Yunus Bengkulu) dan
Safri (mantan Kepala Bagian Keuangan RSUD M Yunus Bengkulu).

Kali ini KPK mengamankan enam orang, yaitu DSU selaku Hakim Anggota di Pengadilan
Tipikor Bengkulu, HKU sebagai PP Pengadilan Tipikor Bengkulu, SI seorang PNS yang
keluarga terdakwa Wilson, DHN sebagai pensiunan PP Pengadilan Tipikor Bengkulu, S
selaku PNS, dan DEN dari pihak swasta.

“Pada Rabu (6/9), pukul 21.00 WIB tim KPK mengamankan DHN, S, dan DEN di rumah
DHN. Ditemukan barang bukti berupa kuitansi yang bertuliskan ‘panjer pembelian mobil’
tertanggal 5 September 2017," kata Ketua KPK Agus Rahardjo.

Selanjutnya, pada Kamis (7/9) pukul 00.00 WIB tim KPK mengamankan HKU di rumahnya
dan pada pukul 01.00 WIB tim KPK mengamankan DSU di rumahnya. "Sekitar pukul 02.46
WIB tim penyelidik mendatangi kembali rumah DSU. Di rumah DSU tim mengamankan
uang sebesar Rp40 juta yang dibungkus kertas koran di dalam kresek hitam,” kata Agus.

Agus menjelaskan total yang diamankan di Bengkulu berjumlah lima orang. ” Seluruh pihak
yang diamankan tersebut dibawa ke Polda Bengkulu untuk dilakukan pemeriksaan awal
kemudian lima orang dibawa ke kantor KPK di Jakarta untuk proses lebih lanjut, ” tuturnya.

Kemudian, pada Kamis (7/9) pukul 10.37 WIB, tim KPK mengamankan SI di Hotel Santika
Bogor dan dibawa ke kantor KPK untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk
kepentingan perkara, kata Agus, tim juga menyegel beberapa benda di beberapa ruangan
Pengadilan Tipikor Bengkulu, yaitu meja dan file kabinet HKU di ruangan Panitera
Pengganti, meja dan file kabinet Hakim Anggota lain di ruangan hakim serta meja dan file
kabinet DSU di ruangan hakim.

Sebagai pihak yang diduga penerima, DSU dan HKU disangkakan melanggar Pasal 12 huruf
c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pasal itu menyebut
mengenai hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan
kepadanya untuk diadili dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda
paling banyak Rp1 miliar.

Sedangkan sebagai pihak diduga pemberi, SI disangkakan melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a
atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Pasal itu menyebut orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan
maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili
dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp750 juta.

Transaksi suap diduga berkaitan dengan penanganan perkara korupsi yang beberapa waktu
lalu diputus majelis hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu. Perkara dimaksud diduga perkara
korupsi Kegiatan Rutin di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA)
Kota Bengkulu Tahun Anggaran (TA) 2013 yang melibatkan Wilson, Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan (PPTK) yang sekarang menjabat sebalai Pelaksana Tugas (Plt) Badan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bengkulu.

Berdasarkan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Bengkulu, perkara Wilson
teregister dengan Nomor : 16/Pid.Sus-TPK/2017/PN Bgl. Sesuai penetapan Ketua PN
Bengkulu tanggal 26 April 2017, majelis hakim perkara Wilson diketuai Kaswanto, serta beranggotakan Suryana dan Henny Anggraini. Sementara, panitera pengganti yang ditunjuk
adalah Hendra Kurniawan.

Sidang pembacaan dakwaan perkara Wilson dimulai pada Rabu, 3 Mei 2017. Setelah
mendengarkan keterangan para saksi, ahli, dan terdakwa, pada 20 Juli 2017, penuntut umum
pada Kejaksaan Negeri Bengkulu menuntut Wilson dengan pidana penjara selama satu tahun
enam bulan dan denda Rp100 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Wilson juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp598,885 juta yang diperhitungkan
dari kerugian negara yang telah dikembalikan Wilson. Penuntut umum berpendapat Wilson
terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dakwaan kesatu subsidair, yaitu Pasal 3 jo
Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Namun, pada Senin, 14 Agustus 2017, majelis hakim memutus lebih ringan tiga bulan dari
tuntutan penuntut umum. Majelis menghukum Wilson dengan pidana penjara selama satu
tahun tiga bulan dan denda Rp50 juta subsidair satu bulan kurungan. Wilson dihukum pula
untuk membayar uang pengganti sebesar Rp598,885 juta.

"Menetapkan uang titipan pengembalian kerugian negara yang dititipkan kepada penuntut
umum sebesar Rp600 juta setelah dikurangi atas uang pengganti kerugian negara sebesar
Rp598,885 juta dirampas oleh negara, serta diperhitungkan sebagai pengembalian kerugian
negara dan sisa uang titipan tersebut sebesar Rp1,114 juta dikembalikan kepada terdakwa,"
demikian amar putusan majelis.


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

Masuk ke akun Anda

Don't have an account?
Daftar menjadi member baru

Reset Password

Daftar menjadi member baru

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles