loading...

17 September 2017
Kasus Zoya: Sebuah Refleksi Pengadilan Jalanan
Kasus Zoya: Sebuah Refleksi Pengadilan Jalanan

IMG_3970-1.jpg

Mendung, jika dianalogikan sebuah perasaan sedih ternyata tak hanya dirasakan oleh langit tetapi mendung pun dapat dirasakan oleh seseorang yang kapasitas kediriannya memiliki perasaan. Mendung ini dirasakan oleh keluarga Zoya. 

Dilansir dari media elektronik televisi, kasus heboh tentang seorang warga bekasi berinisial MA (Zoya) dibakar hidup-hidup setelah sempat mengalami pengeroyokan yang dilakukan oleh warga sekitar. Motif dari pengeroyokan dan pembakaran itu ialah karena korban dituduh melakukan pencurian Amplifier (pengeras suara) mesjid di lokasi tersebut.

Dalam konteks diatas, telah memperlihatkan bahwa telah terjadi yang namanya pengadilan jalanan. Kejadian ini juga menunjukkan lunaknya asas hukum persumption of innoncent (Praduga tak bersalah).

Dalam dunia akademis, tindakan main hakim sendiri biasa disebut eigenrichting, Sedang dari kacamata Kriminologi, pengadilan jalanan atau tindakan main hakim sendiri ialah kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang ataupun lebih terhadap orang yang diduga melakukan kejahatan. Main hakim sendiri masuk dalam tindakan kekerasan yang tak diperbolehkan untuk dilakukan, hal ini karena kekerasan hanya boleh dilakukan dan dibenarkan jika dalam keadaan membela diri, keadaan perang, dalam rangka proses menegakkan hukum, ataupun hukuman yang diberikan oleh negara terhadap seseorang.

Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya tindakan main hakim sendiri ialah masyarakat yang sakit. Masyarakat yang sakit disini mengacu pada masyarakat yang mudah untuk di provokasi oleh orang lain atau kelompok orang untuk turut andil dalam melakukan kekerasan.

Dalam konteks keindonesiaan kita yang sekarang, tentang bagaimana seharusnya bernegara dinegara yang berlandaskan hukum sesuai dengan amanat konstitusi, negara pun menjamin bahwa setiap orang berhak untuk hidup dan memperoleh perlindungan dalam negara. Hal itu terakomodir dalam pasal 28A juncto pasal 28D (2) UUD NRI 1945 yakni, “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan hidup dan penghidupannya” dan pasal 28D ayat (2) yakni, “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.”

Dalam hukum positif kita, eigenrichting dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan. Tepatnya dalam Pasal 170 KUHP diancam dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. pasal tersebut berbunyi: (1) Barang siapa yang di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan, (2) Tersalah dihukum dengan penjara selama-lamanya tujuh tahun, jika ia dengan sengaja merusakkan barang atau kekerasan yang dilakukannya itu menyebabkan sesuatu luka dengan penjara selama-lamanya sembilan tahun, jika kekerasan itu menyebabkan luka berat pada tubuh; dengan penjara selama-lamanya dua belas tahun, jika kekerasan itu menyebabkan matinya orang.

Pertanyaannya kemudian ialah, mengapa main hakim sendiri masih lumrah terjadi di kalangan masyarakat kita? Apakah karena minimnya kesadaran dan keingintahuan masyarakat terhadap hukum positif yang berlaku dalam negara, ataukah karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap instansi penegak hukum di Indonesia? Apakah kita harus kembali kemasa yang terkenal dengan istilah “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) akibat tak bisa membendung emosi berlebih hanya karena pendugaan subjektif tanpa pencarian kebenaran fakta terlebih dahulu?

Tentulah pertanyaan diatas harus dikembalikan kepada pribadi masing-masing, apalagi pihak yang terlibat dalam pengeroyokan dan pembakaran hanya karena Amplifier semata. Semoga pihak keluarga korban diberikan ketabahan dan pastinya memperoleh keadilan yang seadil-adilnya di negara hukum yang berhati nurani ini.

REFERENSI:
1. Fathul Ahmadi Abbi, Pengadilan Jalanan dalam dimensi kebijakan kriminal.
2. Undang-Undang Dasar 1945.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
4. https://news.detik.com/berita/d-3592370/jangan-main-hakim-sendiri-bisa-dipenjara-12-tahun

[zombify_post]
Posted in SpeakUp
Write a comment