HANNA ANISSA KORBAN DARI PELECEHAN SEKSUAL YANG DILAKUKAN NETIZEN


 

Hanna Anissa, belakangan namanya menjadi viral di sosial media. Akun sosial medianya menjadi incaran para netizen yang penasaran akan sosok wanita ini. Hanna Anissa menjadi top trending akibat video mesumnya tersebar secara tiba-tiba di sosial media. Selain parasnya yang cantik, yang mencengangkan lagi adalah dia merupakan alumni dari universitas terkemuka di kawasan Depok. Walaupun statusnya sebagai alumni PTN ternama, paras cantiknya dan skandalnya itu menjadi perhatian para netizen. Dalam dunia sosial pasti ramai membicarakan atau bahkan menghina perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh Hanna Anissa dan pacarnya. Namun jika diperhatikan ada hal ganjil yang dapat kita soroti:

  1. Mengapa yang menjadi sorotan hanya Hanna Anissa sedangkan pihak pria tidak begitu disorot padahal tindakan asusila dilakukan kedua belah pihak?
  2. Mengapa jika netizen mengutuk perbuatan Hanna Anissa, namun video porno yang menjadiincaran nomor 1 di jaringan internetan Indonesia bahkan diviralkan?

Pihak pria sendiri sebenernya juga dalam indikasi penyelidikan polisi. Pihak pria dicurigai merupakan berinisial FG alumni dari PTN terkemuka di Bandung. Anggap saja dengan viralnya video mesum Hanna Anissa dan FG menjadi social punishment untuk mereka karena sudah melanggar nilai-nilai budaya orang timur sebagai bangsa Indonesia yang terkenal sopan dalam bertindak. Namun jika kita membaca di internet, banyak sekali ulasan yang berupa fakta-fakta, cacian, makian yang sebenarnya hanya menuju pada Hanna Anissa, jarang sekali pada pihak pria. Padahal kita semua mengetahui tindakan asusila dilakukan oleh baik pihak pria maupun pihak wanita, bukan pihak wanita saja. Artinya adalah sebenarnya netizen tidak memperdulikan kasus tindakan asusila yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat, tapi netizen peduli pada pihak wanita yang kebetulan memiliki paras cantik. Dari sini sudah bisa kita lihat bahwa terjadi penyimpangan social punishment dari masyarakat.

Hal yang kedua yang harus kita pahami adalah masyarakat yang menghujat perbuatan Hanna Anissa, justru mereka mendownload, menonton bahkan menyebarkan video yang mereka anggap tidak pantas tersebut. Tidakkah ini aneh? Biasanya ketika seseorang atau suatu kelompok membenci suatu tindakan tertentu, mereka cenderung untuk menghilangkan perbuatan tersebut agar mereka menjadi tidak risih. Tapi faktanya atas kejadian ini, netizen bertindak seolah-olah mereka mendukung perbuatan dalam video tersebut dengan cara menikmati video mesum ini untuk dipertontonkan berulang-ulang. Hal ini terbukti dari pencarian di internet video Hanna Anissa menjadi salah satu pencarian tertinggi di google.

Mungkin dari banyak kita berfikir, ini adalah konsekuensinya dari perbuatan Hanna Anissa dan sejatinya ini adalah wujud dari sanksi dari norma sosial. Tapi apapun sanksi dari suatu norma, sanksi tersebut mempunyai tujuan yang baik yaitu membuat jera dan menghilangkan pelanggaran dikemudian hari. Tapi yang terjadi sekarang Hanna Anissa tidak mendapatkan suatu social punishment yang mendidik, justru ia dijadikan obyek seksual baru oleh orang-orang yang tidak kenalnya. Hanna Anissa adalah pelaku yang sebenarnya menjadi korban masyarakat. Disisi lain dia adalah pelaku dari perbuatan tidak senonoh, namun disisi lain tubuhnya dipertonkan oleh banyak pihak yang sebenarnya tidak berhak atas itu atau bahkan dia dijadikan bahan fantasi banyak pihak yang tertarik paras cantiknya.

Berdasarkan hasil Penelitian, Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) di tahun 2002-2003, remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada: usia 14-19 tahun, perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%. Sedangkan pada usia 20-24 tahun perempuan 48,6% dan laki-laki 46,5%.
SKRRI pun melanjutkan analisanya pada tahun 2003 dengan memetakan beberapa faktor yang mempengaruhi mereka melakukan seks pra nikah.

Menurut SKRRI, faktornya yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual antara lain: Pertama, pengaruh teman sebaya atau punya pacar. Kedua, punya teman yang setuju dengan hubungan seks para nikah. Ketiga, punya teman yang mendorong untuk melakukan seks pra nikah.
Di tahun 2005 Yayasan DKT Indonesia melakukan penelitian yang sama. DKT memfokuskan penelitiannya di empat kota besar antara lain: Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan.

Berdasarkan norma yang dianut, 89% remaja tidak setuju adanya seks pra nikah. Namun, kenyataannya yang terjadi di lapangan, pertama, 82% remaja punya teman yang melakukan seks pra nikah. Kedua, 66% remaja punya teman yang hamil sebelum menikah. Ketiga, remaja secara terbuka menyatakan melakukan seks pra nikah.
Persentase tersebut menunjukkan angka yang fantastis. Jabodetabek 51%, Bandung 54% Surabaya 47% dan Medan 52%.

Artinya banyak mayoritas masyarakat sudah pernah hubungan seksual pra nikah, dan artinya netizen penghujat Hanna Anissa juga sebagian besar merupakan pelaku tindakan asusila yang mereka hujat sendiri, hanya saja ada perbedaann yaitu Hanna Anissa diketahui publik sementara mereka tidak diketahui publik. Jadi yang terjadi pada Hanna Anissa saat ini bukan social punishment, namun suatu pelecehan seksual besar-besaran dengan orang lain menyebarkan video, wajah dan tubuhnya pada orang yang tidak memiliki ijin darinya.

Dalam kasus ini sendiri, undang-undang ITE Pasal 45 ayat (1) menyebutkan bahwa:

“Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Dan bagi orang bahwa perbanyakan dan pengumuman suatu potret harus mendapat izin dari semua orang yang ada di dalam potret tersebut, atau ahli warisnya dalam jangka waktu sepuluh tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia. Yang dimaksud “potret” dalam undang-undang tersebut adalah gambar dari wajah orang yang dipotret. Sehingga apabila melanggar akan dikenai sanksi yang tercantum dalam UU No. 28 Tahun 2014 Perubahan Atas UU No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta pasal 115 yang menyatakan bahwa:

“Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).”

Sehingga bila netizen terus-menerus melakukan sosial punishment terhadap Hanna Anissa dengan cara menyebarkan atau memberi link video bisa dikenai sanksi yang cukup berat.


Dasar Hukum:

  1. UU No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
  2. UU No. 28 Tahun 2014 Perubahan Atas UU No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta pasal 115

Referensi :

  1. https://news.okezone.com/read/2010/12/04/338/400182/tiap-tahun-remaja-seks-pra-nikah-meningkat
  2. http://www.madinaonline.id/c907-editorial/apa-benar-93-remaja-indonesia-sudah-melakukan-hubungan-seks/

What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
1
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
3
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
1
WTF

Comments 0

HANNA ANISSA KORBAN DARI PELECEHAN SEKSUAL YANG DILAKUKAN NETIZEN

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles