HAK WARIS ISTERI KE 5 DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM

#hukumperdata #warisislam


Oleh : Yesa Novianti Putri Ashari

Editor : Isakh Benyamin Manubulu

Beranjak dari perintah Allah bahwasannya kita selaku umatnya berkewajiban untuk menuntut ilmu, yangmana modern ini menjadikan obsesi setiap manusia untuk menggali ilmu sedalam mungkin dengan harapan dapat mengaplikasikannya dengan baik, serta adanya firman Allah dalam surah Al-Mujadalah: 11 “Wahai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu berilah kelapangan didalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu, apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt Maha teliti apa yang kamu kerjakan”. Dalil ini menjadikan setiap manusia bersemangat menuntut ilmu diantaranya untuk menjemput rizkiNYA (harta).

 Tak lupa pula manusia diciptakan dengan segala nafsunya, ditambah lagi terdapat dalil yang memperbolehkan laki-laki untuk beristerikan lebih dari satu. Dalam firman Allah dalam surah An-Nisa : 3 “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim ( bilamana kamu mengawininya), makakawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. kemudian jika kamu takut tak dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang kemudian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974  tentang Perkawinan  terdapat syarat memiliki isteri lebih dari satu yakni apabila :

  1. isteri tidak dapat melaksanakan kewajibannya sebagai isteri
  2. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
  3. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Namun dilanjutkan dengan pasal 5  untuk mengajukan permohonan perkawinan ini harus memenuhi syarat :

  1. adanya persetujuan dari isteri/ isteri-isteri
  2. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteridan anak-anak mereka
  3. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Namun tak lupa bahwasanya setiap makhluk yang hidup pasti bertemu dengan kematian. Kemudian bagaimana dengan rizki (harta)yang ditinggalkannya ? dalam hukum islam terdapat hak waris yang akan di berikan kepada ahli warisnya. Pewaris adalah orang yang meninggalkan hartanya, sedangkan ahli waris adalah orang yang ditinggalkannya yang berhak atas harta peninggalan pewaris yang terdapat hubungan perkawinan dan/atau hubungan darah dengan pewaris.

            Hukum islam sendiri mengatur beberapa bidang hukum. Posisi hukum kewarisan dalam hukumislam termasuk dalam lingkupan bidang hukum keluarga. Pada umumnya perihal mengenai hukum keluarga yang didalamnya terdapat ketentuan mengenai kewarisan tersebut diatur dalam Al-Qur’an  surah An-Nisa. Hukum negara megatur tentang kewarisan islam melalui Instruksi Presiden RI nomor 1 tahun 1991 tentang buku 1 tentang Hukum perkawinan, Buku II tentang hukum kewarisan, dan Buku III tentang Hukum Perwakafan. Ayat-ayat kewarisan yang diatur didalam surah An-Nisa: 12

“dan bagimu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang telah ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika mereka (isteri-isterimu) mampunyai anak, makal kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah terpenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar hutangnya). Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jikakamu tidak mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah terpenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar hutang-hutangmu). Jika seorang meninggal baik laki-laki maupun perempuan yang tidakmeninggalkan ayah dan tidakmeninggalkan anak, tetapi memiliki seorang saudara laki-laki (seibu) atau saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua saudara itu seperenam harta. Tapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiatnya) yang dibuatnyaatau (dan setelah dibayar) hutangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah, Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun”.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan perolehan dan hak warisan isteri :

1. Para isteri mendapat ¼ bagian dari harta yang telah dipotong wasiat atau hutang pewaris apabila suami tak memiliki anak.

2. Para isteri mendapat 1/8 bagian dari harta yang telah dipotong wasiat atau hutang pewaris jika suami meninggalkan anak.

 Perolehan hak waris isteri kedua, ketiga dan keempat dalam surah itu menggunakan kata LALUNA yang mempunyai makna para isteri, jadi dapat ditafsirkan bahwasanya seorang suami yang memiliki isteri lebih dari satu maka pembagian ¼ itu diperuntukkan semua isteri jika suami tidak memiliki anak. Dan pembagian 1/8 untuk semua isteri jika suami meninggalkan anak.

Dalam surah An-Nisa : 3 hanya dibatasi untuk mengawini wanita hanya 4 orang isteri, lalu bagaimana dengan isteri ke lima yang sah bila ada ?

Dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam bab Talaq (#2241) dan Ibnu Majah dalam Bab Nikah (#1952) dari Qais bin Harits seorang menemui Nabi dan bercerita: “ Aku masuk islam sedangkan aku memiliki 8 isteri, lalu aku menemui nabi dan meneritakan hal itu,kemudian Nabi bersabd : pilihlah dari mereka empat isteri.

Dalam hadits lain riwayat Ahmad (musnad, 2/83) Tirmidzi Bab Nikah (#1128) dan Ibnu Majah Bab Nikah (#1953), Malik Muwatta’, Talak (#1243) dari abdullah bin Umar menceritakan :

Ghailan Al-Tsaqofi masuk islam sedangkan dia memiliki 10 isteri pada masa Jahiliyah dan mereka semua ikut masuk islam. Lalu Rasulullah menyuruhnya untukmemilih empat isteri dari 10 isteri tersebut ( dan menalak 6 isteri yang lain).

            Dari kedua hadits ini jelaslah bahwasanya untuk pembagian waris hanya kepada keempat isterinya. Namun jika di khawatirkan dapat menimbulkan konflik maka disarankan untuk memilih 4 isteri saja dan menalak isteri yang lain.

Mengacu pada :

Pasal 4 UU Nomor. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Pasal 5 UU Nomor. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan/Pasal 58 Kompilasi Hukum Islam

Pasal 55 Kompilasi Hukum Islam

What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
3
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
8
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
1
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

HAK WARIS ISTERI KE 5 DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles