loading...

7 April 2018
Dugaan Pembunuhan Purnawirawan TNI Angkatan Laut : Bagaimana Kronologinya?
Dugaan Pembunuhan Purnawirawan TNI Angkatan Laut : Bagaimana Kronologinya?


Editor : Isakh Benyamin Manubulu
Kejadian dugaan perampokan disertai dengan pembunuhan terjadi di Komplek TNI AL, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (5/4/2018) lalu, sekitar Pukul 18.00 WIB. Peristiwa ini menewaskan Chunaedi (83), seorang Purnawirawan TNI Angkatan Laut. Hingga saat ini, belum diketahui motif dari adanya pembunuhan tersebut, meskipun terdapat suatu dugaan adanya motif perampokan terhadap korban.

Dikutip dari tribunnews.com, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Stefanus Tamuntuan mengatakan bahwa korban ditemukan dalam keadaan tengkurap di atas kasur. Hasil pemeriksaan pada tubuh korban, ditemukan tiga luka sobek dan luka tusuk, yakni dua dibagian bawah dada kiri dan satu di lengan kiri. Dilansir dari wartakotalive.com, selain luka tusuk, korban juga menderita luka yang diduga bekas benturan benda keras. Stefanus menerangkan bahwa, peristiwa terjadi pukul 18.00 WIB. Saat itu, korban sedang melakukan ibadah di kamar tengah. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu depan rumah korban, disusul dengan teriakan korban yang didengar oleh sang istri.

“Ketika keluar kamar melihat korban sedang dijedot di lantai dan korban sudah bercucuran darah,” ujar Stefan melalui keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (5/4).

Melihat kejadian tersebut, sang istri kemudian histeris dan meminta pertolongan kepada tetangga sekitar. Pelaku yang diduga melakukan pembunuhan langsung melarikan diri melalui pintu belakang. Dari peristiwa tersebut, ditemukan bercak darah berceceran memenuhi lantai rumah bagian belakang hingga ruang tempat ditemukannya korban. Dengan adanya bukti ini, diduga korban sempat diseret pelaku sambil terus dianiaya. Istri korban, Sopiah (78) melihat bahwa sempat ada percekcokan antara korban dan pelaku. Chunaedi sempat terlibat bergumul dengan pelaku sebelum tewas. Naas, saat tiba dilokasi Petugas Polsek Cilandak, Polres Jakarta Selatan, dan Polda Metro Jaya menemukan kondisi korban sudah dalam keadaan meninggal.

Untuk mencari bukti pada kasus ini, pihak kepolisian menurunkan seekor anjing pelacak guna mengejar pelaku pembunuhan. Dilansir dari TribunJakarta, anjing tersebut melakukan penyisiran di Jalan Karang Tengah Raya hingga parit dekat kediaman korban. Saat melakukan penyisiran, anjing tersebut mengendus sesuatu yang diduga darah kering berdekatan dengan parit tersebut. Menurut keterangan warga sekitar, rumah korban sempat disatroni pencuri pada sehari sebelumnya, dimana uang pensiun berjumlah Rp.3,2 juta raib digondol pencuri.

Dikutip dari Tribunnews.com, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, yaitu Sopiah (78) selaku istri korban, dan Wastra Kamayi (42) selaku Ketua RT setempat. Kapolsek Cilandak Kompol Prayitno menerangkan, dari hasil penyelidikan sementara, kejadian itu sebuah penganiayaan bukan perampokan, karena tidak ditemukan adanya barang yang hilang. Hingga saat ini, masih belum diketahui mengenai motif dari pembunuhan tersebut.

Pada kasus ini, apabila pembunuhan tersebut diikuti atau disertai dengan suatu delik yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, dimana pada kasus ini apabila terjadi suatu perampokan, maka termasuk dalam Pembunuhan Berkualifikasi yang diatur dalam Pasal 339 KUHP, dengan ancaman penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 (dua puluh) tahun. Akan tetapi, apabila pelaku tersebut dengan sengaja menghilangkan nyawa orang karena Pembunuhan Biasa dapat dikenakan Pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 (lima belas) tahun penjara, dan apabila pembunuhan tersebut telah direncanakan sebelumnya maka dapat dikenakan pasal 340 KUHP dengan ancaman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara selama-lamanya 20 (dua puluh) tahun. Hingga saat ini belum diketahui motif dari pembunuhan tersebut. Motif sebagai driving force yang menggerakan manusia dalam bertingkah laku dan akan menjadi salah satu dasar pertimbangan hakim dalam menentukan sanksi pidana yang akan dijatuhkan.

Dasar Hukum :

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan.

Sumber :

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2018/04/06/sederet-fakta-terkait-pembunuhan-purnawirawan-tni-al-di-cilandak-kronologi-hingga-jejak-darah?page=all, diakses pada 6 April 2018.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180405222937-20-288695/kronologi-dugaan-pembunuhan-di-pondok-labu-versi-polisi, diakses pada 6 April 2018.

Arysanto.2015.Hubungan antara Motif dengan Berat Ringannya Sanksi Pidana bagi Pelaku Pembunuhan dalam Keluarga.E-Jurnal Universitas Atma Jaya.hlm7.

Saldy.2017.Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pembunuhan Biasa. E-Jurnal Repository Unhas.hlm 24.

Posted in News IssueTaggs:
Write a comment