Pemuda dalam Dinamika Bernegara


 

Editor : Isakh Benyamin Manubulu

Berbagai bentuk pencitraan di tampilkan oleh para elit politik menjelang pesta demokrasi, berbagai momentum di manfaatkan untuk meningkatkan elektabilitas dirinya kepada para calon pemilih nantinya. Itulah kenyataannya, mereka berteriak tentang janji-janji saat masa kampanye dibalut wewangian retorika kepada publik untuk meningkatkan elektabilitas dirinya.

Dari dulu hingga sekarang, tak ada yang berubah dari sifat dan sikap para elit politik apalagi calon pemimpin yang akan memegang estafet kepemimpinan dalam dinamika bernegara. Memang benar bahwa rentang waktu dan jarak ruang memiliki substansinya masing-masing, tetapi jika di lirik para perilaku politisi sekarang dan di komparasikan dengan politisi terdahulu, ialah tak ada bedanya, karena hanya menebar janji-janji di saat masa kampanye yang akhirnya tak ada realisasi terhadap janji yang telah di tebarkan.

Tak hanya perilaku para elit politik, mereka sang penegak hukum atau yang lebih agung si pengetok palu yang mengagung-agungkan negara hukum yang bersih dan bebas dari intervensi kekuasaan diluar koridor hukum (eksekutif dan legislatif). Yang mencita-citakan penegakan hukum yang bersih dan jujur sebagai upaya menegakkan hukum dan menciptakan keadilan untuk para pencari keadilan.

Bagaimana mungkin kita mencita-citakan negara hukum yang bersih dan bebas intervensi dari luar tetapi yang sering terjadi dan di saksikan publik hanyalah ketidaksinambungan antara harapan dan kenyataan dan ujung-ujungnya menuai ketidakpastian?

Masih tekait penegakan hukum serta lembaga penegak hukum, dilansir dari media Tempo.co, mengutip pernyataan dari hakim agung Gayus Lumbuun yang mengatakan bahwa kondisi peradilan di Indonesia sekarang mengalami keadaan darurat dan diperlukan pembenahan dan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aparat di semua strata peradilan.

Bagaimana bisa kita menginginkan lembaga peradilan yang bersih sebagaimana yang kita cita-citakan bersama, namun yang disaksikan lembaga peradilan sedang tak baik-baik saja? Sebagaimana pernyataan dari hakim agung tadi.

Teringat dengan tulisan Prof. Satjipto Rahardjo, bahwa di dunia ini pada umumnya dan dunia peradilan pada khususnya, hanya ada dua tipe macam hakim, yang pertama ialah mereka yang saat mengadili perkara, pertama-tama mendengarkan suara dan putusan hati nuraninya, baru kemudian mencari aturan hukum untuk menjadi landasan putusan nuraninya itu. Dan tipe kedua ialah, yang bila memeriksa mendengarkan “suara perutnya” lebih dulu lalu dicarikan pasal-pasal untuk membenarkannya. (Baca: Satjipto Rahardjo; Perang di Balik Toga Hakim).

Selain itu, ada pula hal yang menyebabkan ketimpangan dan kegentingan dalam dinamika bernegara, yaitu sifat intoleransi yang dapat menyebabkan memecah belah sehingga terjadi disharmonisasi.

Salah satu contoh kecilnya ialah membanggakan yang dimiliki atau yang melekat pada  individu maupun kelompok misalnya kepercayaan, yang kemudian menyalahkan individu atau kelompok lain yang tak selaras dengan mereka. Padahal dalam berdinamika dalam negara haruslah memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama agar tak terjadi kejadian yang tak di inginkan.

Sungguh sebuah ironi jika di saksikan berbagai macam fenomena-fenomena ketimpangan dan kegentingan dalam dinamika bernegara.  Kurang sepakat dengan pernyataan bung Karno yang mengatakan bahwa “hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya”.

Seolah pesan yang dilontarkan bung Karno diatas kita diajak untuk menerima nasib dan larut dalamnya tanpa ada pergerakan untuk keluar dari nasib yang dirasakan itu, atau kerucutnya keluar dari zona tidak nyaman ke zona nyaman yang di inginkan.

Upaya yang harus dilakukan bersama untuk keluar dari zona tidak nyaman itu ialah, melakukan pembenahan atau merekontruksi segala sesuatu dalam dinamika bernegara. Dan nantinya akan mengantarkan kita bersama menuju negara yang membahagiakan dan mensejahterakan tanpa ada kebohongan dan kemunafikan yang dipaksakan benar.

Pastinya upaya itu dilakukan oleh para pemuda yang nanti akan memegang estafet kepemimpinan dan kekuasaan di berbagai lini kehidupan bernegara, sebab pemuda yang menjunjung tinggi idealisme dan integritasnya akan menciptakan sesuatu yang baik dalam negara. Karena integritas bukan untuk kompromikan. Mungkin ini bukanlah suatu solusi yang sifatnya solutif, tapi apa salahnya untuk mencoba hal tersebut yang dimulai dari sekarang.


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
1
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

Pemuda dalam Dinamika Bernegara

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles