Hari Kartini dan Sisi Gelap Perempuan di Indonesia

Editor : Isakh Benyamin Manubulu

Tanggal 21 April, hari yang di peringati oleh masyarakat madani Indonesia setiap tahunnya sebagai hari kartini, hari dimana lahirlah seorang perempuan pribumi hebat yang memberikan motivasi dan menginspirasi perempuan-perempuan di seluruh penjuru tanah air sampai sekarang ini. Dialah Raden Ajeng Kartini, yang pada saat itu melihat kondisi perempuan di masanya masih hidup dalam kungkungan adat yang sifatnya konservatif.

Pemikiran dan gerakan sosialnya yang telah memberikan sumbangsih luar biasa terhadap perempuan di negara tercinta, dan bahkan masih di rasakan sampai sekarang. Perhatiannya yang condong terhadap emansipasi perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang luas dalam masyarakat dan negara baik itu disuarakan dalam bentuk surat-surat yang dimuat dalam surat kabar maupun majalah pada masa kolonial yang implikasinya memberikan semangat kepada pembaca terutama kepada perempuan di jamannya.

Dalam pemikirannya yang diaktualisasikan berbentuk surat-surat yang melihat situasi dan kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Secara historis, peringatan hari kartini lahir pada masa rezim Soekarno yang saat itu mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, lalu menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus di tetapkannya hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai hari kartini.

Di tengah ingar-bingar semarak perayaan hari kartini saat ini, masih ada saja sisi gelap yang terjadi terhadap kaum perempuan di bumi pertiwi, misalnya ialah masih maraknya kekerasan yang di rasakan oleh kaum perempuan. Contoh kecil dari hal tersebut ialah kasus-kasus pemerkosaan atau penyiksaan kepada perempuan.

Dilihat secara kasuistik, dilansir dari media mainstream yang memberitakan tentang peristiwa pemerkosaan terhadap anak perempuan dibawah umur yang terjadi di Kabupaten Padang, Sumatera Barat. Dimana pelaku mencabuli anak perempuan sebanyak 34 orang, sungguh angka yang fantastis sekaligus ironis yang menggambarkan penyakit kronis yang masih di alami masyarakat di era sekarang.

Menurut Komisi Nasional Perempuan, sepanjang tahun 2017 mencatat ada sebanyak 348.446 kasus kekerasan baik yang di laporkan maupun ditangani dan menimpa kaum perempuan di bumi pertiwi. Sebanyak 335.062 kasus tersebut bersumber pada data kasus yang di tangani oleh Pengadilan Agama (PA), 13.384 kasus ditangani oleh 237 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 provinsi.

Dari kasus dan data-data yang telah di sampaikan oleh media dan lembaga terkait, kita telah melihat gambaran betapa masih bobroknya moral dan etika masyarakat era sekarang terutama para pelaku-pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut. Lantas apa yang melatarbelakangi hal tersebut sehingga peristiwa seperti kasus pemerkosaan di Indonesia masih marak terjadi dan meresahkan masyarakat pada umumnya dan perempuan khusunya.

Menurut salah seorang psikolog Hartini Kartono, yang melatar belakangi terjadinya pemerkosaan ialah adanya dorongan-dorongan nafsu seks yang sangat kuat berbarengan dengan emosi yang tidak mapan dan dewasa. Yang biasanya dimuati dengan unsur kekejaman dan sifat sadistis. Dan masih banyak pula yang melatarbelakangi peristiwa pemerkosaan teresebut yakni: etika berpakaian perempuan, gaya hidup yang melanggar moral dan etika, rendahnya penghayatan terhadap nilai-nilai agama dan keilahian, kurangnya pengawasan dari masyarakat sekitar, dan lain sebagainya.

Dari latar belakang yang telah di kemukakan diatas, adapun solusi yang di tawarkan oleh penulis untuk meminimalisir terjadinya kasus pemerkosaan di bumi pertiwi ialah dilakukannya pengawasan terhadap anak terutama anak perempuan agar terhindar dari pergaulan bebas dan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai keagamaan serta menebalkan etika dan moral yang dilakukan oleh orang tua dan masyarakat melalui pengawasannya. Karena rusaknya perempuan dalam suatu negara, maka tinggal menunggu waktu negara tersebut akan rusak pula. Sebab dari rahim seorang perempuan lah terlahir generasi-generasi yang akan mengubah suatu negara, kita tinggal memilih memperbaiki atau merusak negara kita dimulai dari sekarang.

Leave a Reply