Di Balik “Lenyapnya” Uber

Di balik "lenyapnya" Uber dari jalanan Indonesia, ada hal-hal yang harus Anda ketahui


Editor : Isakh Benyamin Manubulu

Masyarakat Indonesia kehilangan salah satu pemain dalam dunia transportasi daring, Uber. Tertanggal 8 April 2017 ini, perusahaan jaringan transportasi asal San Francisco, California ini resmi ‘lenyap’ dari dunia layanan transportasi daring Indonesia. Ya, layanan aplikasi penyedia transportasi yang mengusung tagline ‘Dekat dengan Grab’ alias Grab telah mengakuisisi Uber.

Dialog-dialog tentang Uber pun banyak bermunculan dalam aktivitas sehari-hari. Sekelumit pertanyaan seperti “Eh Uber ngga ada lagi, ya?” atau “Kok gue nggak bisa lagi mengoperasikan aplikasi Uber di ponsel gue, ya?” yang kemudian dijawab celetukan “Yaiyalah, Uber udah nggak ada, Say. Pailit kayaknya karena tarifnya terlalu murah.”

Benarkah seperti itu? Apakah Uber benar-benar hilang? Lalu apakah dengan diambil alihnya suatu perusahaan oleh perusahaan lain adalah pertanda bahwa perusahaan tersebut bangkrut?

Pengambilalihan atau akuisisi adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut.[1] Ditinjau dari aspek yuridis, akuisisi adalah persetujuan antara pihak yang diambil alih dengan pihak yang mengambil alih.[2]

Siapa pihak yang kompeten dan memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan hukum akuisisi tersebut? Ternyata, pihak yang mengakuisisi tak melulu cuma badan hukum, tetapi dapat juga orang perorangan. Sementara pihak yang diakuisisi adalah direksi perseroan atau pemegang saham perusahaan yang bersangkutan.

Sebelum dituangkan dalam bentuk sebuah akta akuisisi, proses akuisisi diawali dengan adanya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bila tidak diadakan dan tidak disetujui oleh RUPS, akuisisi yang dilakukan akan cacat hukum dan tergolong perbuatan ultra vires. Setelah sebelumnya, masing masing perusahaan yang hendak diakusisi dan mengakuisisi terlebih dahulu diawali dengan rancangan pengambilalihan yang isinya kurang lebih memuat nama dan tempat kedudukan perusahaan, alasan diadakan akuisisi, laporan keuangan, tata cara penilaian dan konversi saham, jumlah saham yang akan diakuisisi, cara penyelesaian hak pemegang saham, dan juga termasuk di dalamnya dibahas cara penyelesaian status, hak, dan kewajiban dari Direksi, Dewan Komisaris, serta para karyawan yang perusahaannya diakuisisi.[3] Sehingga seharusnya, bagaimana nasib para driver Uber setelah hengkangnya perusahaan ini dari Indonesia sudah diatur dalam rancangan akuisisi ini.

Penting untuk diketahui bahwa akibat hukum dari proses akuisisi tidak serta membuat lenyap perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan yang diakuisisi tetap eksis dan valid seperti biasa. Hanya pemegang sahamnya yang beralih dari pemegang saham perusahaan semula menjadi perusahaan yang mengambil alih. Akibat hukum yang timbul hanya sebatas terjadinya peralihan pengendalian Perseroan kepada pihak yang mengambil alih.

Itu pula yang terjadi dengan Uber. Ia tidak benar-benar hilang. Bentuk badan hukum Uber masih eksis dan masih beroperasi. Hanya saja, sistem pelayanan dan operasional Uber Indonesia telah beralih ke Grab.

Ini yang mungkin paling ditunggu-tunggu: lantas bagaimana dengan para pekerja atau karyawan pada perusahaan yang diakuisisi? Adakah peraturan hukum yang ‘mengatur’ tentang nasib mereka?

Pasal 126 ayat (1) Undang Undang Perseroan mengatur bahwasannya dalam proses akuisisi harus memerhatikan kepentingan dari perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, kreditor dan mitra usaha lainnya dari Perseroan, serta masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha. Sesuai dengan penjelasan pasal tersebut dijelaskan bahwa akuisisi tidak boleh dilakukan apabila merugikan pihak tertentu.[4]

Namun yang tak kalah perlu diperhatikan baik oleh Grab maupun Uber adalah ketentuan hukum yang mengatur bahwa akuisisi yang mengakibatkan nilai aset dan atau penjualannya melebihi jumlah tertentu yaitu untuk aset sebesar dua setengah triliun rupiah; dan/atau nilai penjualan sebesar lima triliun rupiah maka wajib diberitahukan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha, selambat-lambatnya tiga puluh hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut.[5]

Apakah perusahaan yang diakuisisi selalu berarti ia mengalami kepailitan? Sesungguhnya tidak. Justru akuisisi adalah langkah untuk menyelamatkan perusahaan tersebut agar tetap eksis. Bahkan sejumlah pakar menilai bahwa, langkah akuisisi yang diambil Uber tersebut adalah upaya persiapan strategi besar untuk membuat Uber lebih atraktif bagi investor-investor potensial. Salah satunya rencana turut melantai di bursa dengan skema penawaran umum perdana alias IPO pada tahun 2019 mendatang.[6]

Bagaimana, Pembaca? Siap tidak melihat jaket hitam-kuning di jalanan lagi?

 

Daftar Pustaka:

Devita, Irma. 2012. Kicauan Praktis Seputar Perseroan Terbatas. Penerbit irmadevita.com. Jakarta

Harahap, M Yahya. 2016. Hukum Perseroan Terbatas. SinarGrafika. Jakarta

Hukumonline.com. 2009. Tanya Jawab Hukum Perusahaan, Visi Media. Jakarta

Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan Saham Badan Usaha yang Dapat Mengakibatkan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Kompas: Tinggalkan Asia Tenggara, Uber bersiap untuk IPO https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/27/113100026/tinggalkan-asia-tenggara-uber-bersiap-untuk-ipo, diakses pada 9 April 2018 pukul 00.28 WIB

——————————————————————————————

[1] Pasal 1 butir 11 Undang Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 (UUPT)

[2] M Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, SinarGrafika, Jakarta: 2016, hlm.508

[3] Ibid

[4] Pasal 126 ayat (1) UUPT

[5] Pasal 29 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat jo. Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan Saham Badan Usaha yang Dapat Mengakibatkan Persaingan Usaha Tidak Sehat

[6]Kompas: Tinggalkan Asia Tenggara, Uber bersiap untuk IPO https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/27/113100026/tinggalkan-asia-tenggara-uber-bersiap-untuk-ipo

What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
1
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

Di Balik “Lenyapnya” Uber

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles