CARUT MARUT CINTA BEDA AGAMA DI INDONESIA


Oleh Widya Granawati

Pernah gak sih kalian baca bukunya Dwitasari yang judulnya Cinta tapi Beda? Atau kalian pasti tahu lagu Marcel yang judulnya Peri Cintaku kan? Yap, kisah percintaan beda agama sudah dimanfaatkan pasar-pasar budak kapitalis untuk meraih untung yang menjulang dengan menaikan popularitas kesedihan patah hati masyarakat Indonesia yang terjebak cinta beda agama.

Cinta beda agama. Hmmmm, isue yang menarik untuk dibicarakan. Entah kenapa cinta beda agama ini jauh lebih seksi dibicarakan daripada cinta beda suku karena akhirnya gak bisa bayar sinamot (mahar orang batak) atau uang panai (mahar orang bugis). Kadang penulis curiga, jangan-jangan sensitivitas agama belakangan ini meningkat salah satu penyebabnya ialah karena banyaknya muda-mudi yang saling mencintai namun tak mungkin bersatu. Jadi mereka memilih musuhan dan pura-pura benci aja, daripada tersiksa rindu.

Lucunya, kita sudah mengakui enam agama yang ada di Indonesia, dan kemungkinan untuk bersama-sama menciptakan life goals “beli kebutuhan dapur bersamamu” antara mereka yang berbeda agama pasti ada. Namun, jelas-jelas pernikahan beda agama masih dilarang oleh hukum Indonesia, yang merugikan muda-mudi tersebut karena harus mengeluarkan biaya ekstra tiket pulang-pergi ke Singapura untuk melakukan pernikahan dan mencatatkan di Indonesia lagi. Terlebih lagi, menikah di Singapura menjadi semakin sulit dijangkau oleh mereka yang nilai raport bahasa Inggrisnya jelek.

BIANG KEROK DASAR HUKUM PELARANGAN CINTA BEDA AGAMA

Dalam pasal 2 ayat (2) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.”

Kata “kepercayaannya itu” membuat bingung pemahaman kita sebagai masyarakat biasa. Timbul pertanyaan sebagai kaula muda tentang makna apakah kepercayaan diartikan sebagai “prinsip hidup atau kepercayaan” atau diartikan sebagai “aliran kepercayaan”? Padahal pada waktu itu aliran kepercayaan tidak diakui oleh pemerintah Indonesia. Jadi apa arti dari kata “kepercayaan itu”? Kata “agamanya” juga menyebabkan perdebatan bukan hanya para sarjana hukum tapi juga pemeluk agama itu sendiri.

Sebagai contoh, penulis akan menjabarkan kasus dalam masyarakat pemeluk agama Kristen. Dalam kehidupan masyarakat Kristen, terjadi perbedaan yang sangat banyak. Bayangkan saja dalam satu agama Kristen terdapat lebih dari 170 aliran agama Kristen di seluruh dunia yang mempunyai doktrin berbeda-beda. Perbedaan aliran ini membawa akibat pada teknis ibadah hingga prinsip hidup juga. Contoh simple yang paling Ekstrim dan mungkin banyak yang tidak kalian ketahui: dalam aliran Kristen tertentu melarang makan babi, namun aliran Kristen lain tidak melarang makan babi. Penulis garis bawahi sisini penulis tidak akan memperdebatkan makan babi boleh atau tidak ya? Namun penulis hanya akan menunjukan fakta bahwa dalam satu agama bisa memiliki prinsip yang berbeda-beda. Contoh lain, dalam agama Kristen terdapat perbedaan multitafsir tentang perkawinan beda agama, ada yang setuju perkawinan beda agama dengan salah satu ayat pegangan mereka 1 Korintus 7:13 “Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman (tidak memiliki iman/kepercayaan yang sama) dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu”. Namun disisi lain juga ada doktrin gereja menyatakan bahwa pernikahan beda agama dilarang. Bahkan ada yang lebih super duper ekstrim bahwa ada beberapa aliran Kristen tidak menghendaki pernikahan beda aliran Kristen sehingga pernikahan hanya boleh dilakukan oleh dua insan yang satu aliran alias mungkin ketika mereka mencari jodoh harus survei dulu “Kamu aliran apa?” atau lebih parahnya lagi mungkin jodoh mereka terbatas hanya satu gereja saja. Hehe. Kita yang bebas milih jodoh se Indonesia aja masih jomblo terus, apalagi cuma disuruh cari jodoh satu gereja doang ya?

Balik lagi, jika ada contoh perbedaan pendapat seperti itu mana yang umat Kristen pakai? Yappph, disini timbul ketidak pastian hukum dalam cinta beda agama bahkan cinta beda aliran yang mempersulit pencarian jodoh. Sebenarnya tujuan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 awalnya adalah suatu produk unifikasi hukum (yang menyamakan hukum) namun tetap memberikan keleluasaan atau kelonggaran pada masyarakat untuk tetap memegang teguh prinsip agamanya tanpa harus bertentangan dengan hukum yang berlaku. Namun si pembuat Undang-undang lupa bahwa, dengan melempar hakikat boleh tidaknya pernikahan beda agama juga menimbulkan masalah tersendiri karena pemasalahan beda tafsir dalam agama sudah ada dari ribuan tahun yang lalu.

Faktanya, hakim di Indonesia sendiri belum seragam memandang perkawinan Beda agama, sebagai contoh pada penetapan PN Surakarta Nomor: 112/Pdt.P/2008/PN.Ska yang menyatakan bahwa mengabulkan permohonan yang meminta ketua Pengadilan Negeri untuk memberikan izin kepada para pemohon untuk melangsungkan perkawinan beda agama di kantor dinas kependudukan dan catatan sipil. Di sisi lain, permohonan izin perkawinan beda agama yang diajukan pada PN Ungaran dengan Perkara No.08/Pdt.P/2013/PN.Ung justru ditolak.

PASAL 2 AYAT (2) TERNYATA TIDAK MEMENUHI SYARAT BAHASA PERUNDANG-UNDANGAN

Kalian pasti tahu Montesquieu, seorang pemikir politik Perancis era Pencerahan pencetus konsep trias politica. Menurut Montesquieu, bahwa syarat-syarat bahasa perundang-undangan haruslah memiliki batasan gaya bahasa perundang-undangan selain ringkas juga sederhana; istilah yang dipilih sedapat-dapat bersifat mutlak dan tidak relatif, dengan maksud meninggalkan sedikit mungkin timbulnya perbedaan pendapat individual. Lalu juga bahasa perundang-undangan membatasi diri pada riil dan aktual, serta menghindarkan diri dari yang kiasan dan dugaan.Dan bahasa perundan-undangan juga harusnya tidak memancing perdebatan atau perbantahan.

Tentu, saya dan kita juga sudah bosan membicarakan topik romansa yang tidak habis-habisnya diperbebatkan oleh bagi pelaku cinta beda agama itu sendiri, aktivis HAM, kaum agamis, dan penegak hukum. Hal ini juga yang dimanfaatkan kapitalis untuk mengubah kesedihan dan konflik tanpa titik temu menjadi produk yang dijual seperti CD album, film, buku dll. Cinta beda agama akan terus timbul mengingat kita adalah masyarakat yang heterogen. Lagu cinta, dan artikel yang memperdebatkan tafsir ini akan terus menerus muncul. Salah satu solusinya adalah dengan merevisi UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, membuat kontruksi hukum yang lebih jelas agar artikel seperti ini tidak muncul lagi ke permukaan. Hehe

Daftar Pustaka:
Alkitab
UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Buku:
Rahardjo, Satjipto. 1996. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Skripsi:
Lisa, S. 2016. Analisis Perkawinan Beda Agama (Studi Putusan Pengadilan Negeri Terkait Dengan Izin Perkawinan Beda Agama). Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Hukum. Universitas Negeri Semarang: Semarang.
Internet:
NNP. 2018. “Pengadilan Belum Seragam Memandang Pernikahan Beda Agama”. URL: http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt565c049ed65ba/pengadilan-belum-seragam-dalam-memandang-nikah-beda-agama diakses 3 Juni 2018 09:40 WIB


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
1
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

CARUT MARUT CINTA BEDA AGAMA DI INDONESIA

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles