SEPERTI UTANG, KEJAHATAN HARUS DIBAYAR TUNTAS DAN PAS


Penulis : Chyntia Pinky

“Pelaku kejahatan itu harus dihukum seberat-beratnya!”
Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat bernada marah tersebut. Mulai dari kasus pembunuhan hingga maling sendal Masjid-pun masyarakat selalu menuntut untuk diberikan hukuman seberat-beratnya. Padahal sebagai warga negara yang cerdas kita perlu memahami bahwa pengadilan bukanlah rentenir, jadi tidak ada istilah hukuman seberat-beratnya. Namanya saja peng-adil-an, ya harus adil, ibarat kata kejahatan itu seperti utang yang harus dibayar tuntas dan pas, tidak boleh berlebih ataupun kurang.

Sayangnya, kita sering salah kaprah. Pokoknya apapun kejahatan harus dihukum seberat-beratnya. Ya tidak bisa begitu, itu namanya dendam dan jangan sampai kita menggunakan hukum untuk balas dendam. Pemikiran seperti ini sudah sangat kuno!

Di abad milenial ini, tidak hanya teknologi yang semakin canggih, hukumpun mulai mengikuti perkembangan zaman. Jika pada masa sebelumnya pelaku kejahatan harus dihukum, sekarang pelaku kejahatan harus diberi pelajaran. Dan sebagaimana pelajaran, tidak ada yang menggunakan hukuman seberat-beratnya, yang ada hukuman hanyalah media untuk mendidik. Di pengadilan, hukuman diberikan untuk mendidik pelaku agar tidak mengulangi kejahatannya dan juga untuk mendidik masyarakat agar jangan sampai berbuat kejahatan yang serupa.

Lalu bagaimana jika hukuman yang diberikan adalah hukuman mati?
Nah, ini yang masih menjadi perbedatan panjang di kalangan hakim. Lima dari sembilan hakim percaya bahwa sesungguhnya hukuman mati sah-sah saja selama kejahatan yang diperbuat termasuk ke dalam kejahatan ‘paling serius’, tetapi empat lagi tidak setuju karena mereka beranggapan jika hukuman mati melanggar HAM, yaitu hak untuk hidup. Padahal, hak untuk hidup itu adalah hak paling dasar yang diberikan oleh Tuhan dan hanya boleh diambil oleh Tuhan. Tapi kan hakim wakil Tuhan? Huehuehue.

Dulu, hukuman mati dijatuhkan oleh Raja kepada rakyatnya yang mengganggu keamanan. Bentuknya macam-macam, mulai dari pelaku digantung terbalik kemudian digergaji, direbus hidup-hidup, dihimpit oleh gajah, diseret pakai kuda dari berbagai arah hingga bagian-bagian tubuh pelaku lepas, hingga dikubur dalam keadaan masih bernafas, serta masih banyak hukuman mati dengan cara-cara kejam lainnya. Yang dimaksud mengganggu keamanan disini ya suka-suka Raja saja, tidak ada patokan khusus. Sehingga seringnya hukuman mati bersifat sewenang-wenang, pokoknya seenaknya Raja.

Kalau begitu hukuman mati kuno dong?
Ya belum tentu. Sekarang hukuman mati sudah modern. Tidak diberlakukan terhadap semua kejahatan, hanya beberapa kejahatan tertentu saja, misal terorisme, narkotika, kekerasan seksual terhadap anak, dan kejahatan-kejahatan lain yang dampaknya luas dan sangat serius. Itupun dengan petimbangan yang sangat matang, sematang-matangnya telur rebus lebih matangan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman mati. Buktinya orang yang dijatuhi hukuman mati masih bisa meminta pertolongan, mulai dari pertolongan Presiden hingga pertolongan pengadilan yang tingkatnya lebih tinggi.

Lagipula, hukuman mati saat ini harus memenuhi syarat “tidak boleh sakit” (lah wong ditusuk jarum saja sakit, apalagi mati), tapi “tidak boleh sakit” disini maksudnya tidak boleh ada penyiksaan dalam pelaksanaan hukuman mati. Harus dilakukan secara cepat dan tepat. Di Indonesia, hukuman mati dilaksanakan dengan cara menembak pelaku di bagian dada tepatnya pada jantung, sehingga matinya pelaku bersifat instan dan tidak merasakan kesakitan yang lama.

Jadi, kalau nonton berita atau melihat aksi kejahatan jangan suka berkomentar “beri hukuman seberat-beratnya” lagi ya. Karena Indonesia negara hukum, semuanya harus berdasarkan hukum. Seperti halnya hukuman mati, semua jenis hukumanpun dijatuhi hukuman seadil-adilnya oleh hakim.

Sumber
Mei Susanto, Kebijakan Modernisasi Pidana Mati: Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2-3/PUU/V/2007, Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum, Universitas Padjadjaran.
Marcus Priyo Gunarto, Sikap Memidana yang Berorientasi Pada Tujuan Pemidanaan, https://media.neliti.com/media/publications/40559-ID-sikap-memidana-yang-berorientasi-pada-tujuan-pemidanaan.pdf, diakses 8 Juni 2018.
Praktek Hukuman Mati di Indonesia, https://www.kontras.org/hmati/data/Working%20Paper_Hukuman_Mati_di_Indonesia.pdf, diakses 8 Juni 2018.


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

SEPERTI UTANG, KEJAHATAN HARUS DIBAYAR TUNTAS DAN PAS

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles