SOCRATES DAN KEMATIANNYA


Penulis : Widya Granawati

Tidak tampan dan cuek. Mungkin itu adalah kata-kata yang cocok menggambarkan Socrates. Seorang filsuf besar generasi pertama yang merupakan titik awal dari lahirnya filsuf-filsuf besar seperti Plato dan Aristoteles. Filuf besar ini berjasa atas banyaknya aktivis kampus yang lahir dan mahir beretorika tentang keadilan, negara demokrasi, hingga kenaikan UKT.

Socrates (469-399 SM), lahir di Athena, anak laki-laki dari pasangan Sophoroniscus seorang pemahat dan Phaenarete yang merupakan seorang bidan. Di masa kecil Socrates dari orang tua diajari pendidikan sastra, musik dan juga olahraga. Socrates dikenal berparas jelek dan sangat cuek semasa dewasa. Socrates kerap terlihat mengenakan baju-baju yang sudah kumal, robek-robek dan kotor berbanding terbalik dengan kita mahasiswa yang uang bulanan kecil namun mengahabiskan uang untuk make up yang harganya menuntut kita untuk belajar menahan haus dan lapar. Wkwk

Socrates berakhir sebagai terpidana mati yang namanya dikenang oleh seluruh masyarakat dunia sebagai seorang yang tersohor, sebab kata-kata bijaknya diabadikan oleh Plato yang juga merupakan filsuf termahsyur generasi kedua sepanjang sejarah.

TUDUHAN TERHADAP SOCRATES
Pada tahun 399 SM, Socrates diseret kepengadilan dengan tuduhan: “Misi dan praktek pengajaran filsafatnya telah melecehkan konsepsi dan tradisi ketuhanan yang selama berabad-abad dianut masyarakat kota Athena”.
Dalam pembelaannya itu Socrates harus berhadapan dengan tiga orang penuntut utama yaitu Anytus, Meletus, Lykon. Yang pada tuntutannya itu mereka bertiga menyatakan bahwa:
1. Socrates diduga bersalah terhadap suatu tindak kejahatan, karena menciptakan dan menyembah “Tuhan Baru” yang dalam hal ini kita sebut “Akal Sehat atau Rasionalitas” yang dianggap menandingi dewa orang Athena yaitu Gunung Olympus. Sehingga Socrates disebut sebagai kafir.
2. Socrates juga diduga bersalah terhadap tindak kejahatan, karena meracuni pikiran orang muda dan menghasut mereka untuk meninggalkan tradisi dan konsepsi ketuhanan yang diwarisi dari leluhur lalu menyembah Tuhan lain yang baru ini (read: akal sehat).

PEMBELAAN SOCRATES
Tanpa didampingi pengacara handal dan perlente jaman masyarakat Athena ala Hotman Paris, Socrates pun menyusun pembelaan yang panjang di depan dewan juri yang isi pembelaannya Socrates menampik tuduhan yang pertama yaitu Socrates tidak mempercayai Tuhan dengan menciptakan Tuhan baru yang disebut rasionalitas. Ia mengatakan bahwa ia bukanlah seorang Atheis yang tidak percaya Tuhan sekali, dia menuduh balik para penuntut umum apakah mereka paham definisi dari tidak percaya sama sekali adanya Tuhan. Socrates juga bertanya apa ukurannya untuk tidak percaya sama sekali terhadap keberadaan Tuhan. Socrates menekankan bahwa ia bukanlah seorang Atheis. Socrates mempercayai eksistensi Tuhan namun jika ditanya apakah matahari adalah dewa atau bukan? Socrates hanya menjawab matahari adalah batu.

Lalu Socrates juga menampik tuduhan yang kedua, yaitu meracuni pikiran orang muda dengan menghasut pikiran mereka untuk tidak mempercayai Tuhan dan meninggalkan tradisi. Socrates pun dalam pembelaannya mengatakan jelas menampiknya, bahwa Miletus tidak mengetahui apa definisi kata merusak, justru Socrates membuat para anak muda menjadi generasi yang lebih baik. Socrates mengatakan ia mengajarkan kebijaksanaan terhadap kaum muda bahwa kekayaan tidaklah membawa keunggulan, namun keunggulan membawa kekayaan dan keunggulan itu dapat mengharumkan nama individu sendiri maupun kelompok dari individu tersebut. Sehingga tuduhan merusak kaum muda, sangat tidak beralasan. Dan apabila Socrates memang merusak kaum muda, harusnya banyak dari mereka yang sadar dan menjauhi Socrates, namun tidak satupun dari kaum muda yang akhirnya menjauhi Socrates dan merasa Socrates sudah mengajarkan hal buruk.

JURI MEMBEBASKAN, HAKIM MENGHUKUM MATI
Sebagian besar dewan juri pun berpihak pada Socrates dan menginginkan Socrates untuk dibebaskan. Berpihaknya dewan juri terhadap Socrates sebenarnya membawa harapan ia bakal bebas. Namun sayangnya hakim dan praktisi hukum terlanjur sakit hati atas pembelaan Socrates yang menukik dan membuat baper mereka. Dengan mengabaikan pertimbangan juri akhirnya Socrates tetap dihukum mati. Namun ada juga yang mengatakan sebenarnya Socrates diberi dua pilihan. Hidup meninggalkan filosofinya atau mati dengan filosofinya. Pada akhirnya Socrates tetap memegang teguh prinsip, kebajikan yang ia ajarkan selama ini dan memilih untuk mati.

SUPREMASI HUKUM DIATAS SEGALANYA
Walaupun rasanya tidak adil bagi Socrates tetap dihukum mati, sedangkan pertimbangan juri sebagian besar menginginkan dia bebas. Namun Socrates pun tetap menerima putusan tersebut, dan mengabaikan pendapat teman-temannya untuk melarikan diri. Pada saat eksekusinya berjalan, Socrates disodori tiga cawan oleh pelayan. Satu cawan kosong, dan dua berisi racun. Dengan gagah dan teguh, Socrates sebagai warga negara yang taat hukum memilih cawan yang berisi racun. Pada akhirnya, Socrates pun mati sebagai seorang terpidana.

Daftar Pustaka:
Bakir, Herman. 2009. Filsafat Hukum-Desain dan Arsitektur Kesejarahan. Bandung: PT. Refika Aditama.
Plato. Apology of Socrates.
Ward, Ian. 2014. Pengantar Teori Hukum Kritis. Volume I. Diterjemahkan: Narulita Yusron dan M. Khozim. Bandung: Penerbit Nusa Media.


What's Your Reaction?

Cry Cry
0
Cry
Cute Cute
0
Cute
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
0
Like
Lol Lol
0
Lol
Love Love
0
Love
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF

Comments 0

SOCRATES DAN KEMATIANNYA

log in

Become a part of our community!

Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join BoomBox Community

Back to
log in
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles