loading...

18 November 2018
Membinatangkan Manusia
Membinatangkan Manusia

Penulis: Chyntia Pinky

Bagaimana rasanya jika manusia tidak diberi makan berhari-hari ? Dibiarkan berkeliaran di jalanan dan mendapatkan tendangan setiap kali meminta makanan ?

Bagaimana rasanya jika manusia dilempari batu karena mengais makanan dari sampah yang telah dibuang ?

Bagaimana rasanya jika manusia dipaksa untuk berjalan dengan tangan dan kaki sekaligus ?

Bagaimana rasanya jika manusia dicambuk berkali-kali agar bisa melewati lingkaran api dan berdiri di atas seuntai tali tipis ?

 

Kita mungkin saja tertawa dengan atraksi sirkus hewan. Berlomba-lomba membeli tiket seharga ratusan ribu hanya untuk menyaksikan hasil siksaan hewan yang berbalut keunikan-keunikan seperti gajah yang berdiri di atas kursi, singa yang berjalan dengan dua kaki, lumba-lumba yang berkeliling kolam renang berkali-kali, berang-berang yang mengayuh sepedanya sendiri, dan masih banyak lagi. Mereka adalah hewan-hewan hasil cambukan manusia yang sesungguhnya sangat menyayat hati.

 

Pertanyaannya, apa benar manusia semenyedihkan itu sampai harus menjadikan hewan objek hiburan ? Barangkali yang lebih binatang dari binatang adalah manusia.

 

Mari tertawa jika anda tidak setuju, tapi kita bisa melihat berapa banyak lumba-lumba yang mati sebagai hewan sirkus, berapa banyak badak yang bangkainya membusuk di hutan karena culahnya diambil atau gajah yang gadingnya dipotong, berapa banyak anjing atau kucing yang disiram air panas, dan berbagai penyiksaan keji lainnya. Lucunya, ternyata manusia lebih ganas dari hiu sekalipun. Setiap tahun jutaan hiu mati di tangan manusia dan pada tahun yang sama hanya 5 orang manusia yang mati karena hiu.

Hukum Indonesia sesungguhnya mengecam hal-hal yang berbau penyiksaan terhadap hewan, bukan hanya hewan langka, namun semua jenis hewan ! Dalam Pasal 302 KUHP dan Pasal 66 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan, seseorang dapat dipenjara selama 3 bulan hanya dengan menendang hewan atau bahkan tidak memberi makan hewan peliharaannya. Hukuman tersebut akan lebih berat lagi, jika seseorang memang bermaksud menyiksa hewan seperti yang dilakukan dalam sirkus-sirkus.

 

Pada tahun 2005, seseorang terpaksa berhadapan dengan meja hijau karena mengikat seekor sapi dengan sangat erat di pohon coklat sampai sapi tersebut mati. Saat itu, pelaku terancam dipenjara karena perbuatannya, namun karena pelaku memiliki kelainan mental maka dalam Putusan Nomor 215k/pid/2005 perbuatan orang tersebut dimaafkan.

 

Meskipun pelaku dimaafkan karena faktor lain, kasus ini membuktikan jika seseorang yang melakukan penganiayaan terhadap hewan benar-benar dapat dipenjara apabila ada pengaduan. Jadi, jangan sampai anda menjadi salah satu orang yang menyiksa hewan karena apabila saya melihat anda melakukannya, maka saya pastikan anda akan berhadapan dengan pengadilan.

 

 

Dasar Hukum:

  • Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
  • Putusan Mahkamah Agung Nomor 215/Pid/2005.

Sumber:

Alexander Lumbantobing, “5 Kisah Pilu Binatang Sirkus”, https://www.liputan6.com/global/read/2363897/5-kisah-pilu-bintang-sirkus, diakses 3 Juli 2018.

Posted in Uncategorized
Write a comment