loading...

18 November 2018
Mental Kucing Si Otak Pesing
Mental Kucing Si Otak Pesing

Si Penulis: Chyntia Pinky

Pagi 25 Oktober 2018 lalu, pada acara seminar nasional di Univesitas Tarumanegara salah seorang peserta yang berasal dari sebuah universitas swasta di Jakarta angkat bicara (nama universitas disamarkan agar tidak malu punya mahasiswa seperti ini).

Saya mahasiswa S2 di Universitas X ingin menyanggah bahwa sesungguhnya kejahatan seksual bukan kesalahan pelaku semata, tetapi juga kesalahan korban yang memakai baju seksi dan mengundang nafsu. Seperti kucing, kalau dikasih ikan tentu mau-mau saja Pak

Para pembicra yang diundang seperti Syaiful Bakhri, Maurar Siahaan, dan Merdeka Sirait hanya bisa tersenyum kecut. Pernyataan itu dibalas oleh Syaiful Bahkri dengan:

Mas, kalau S2, pelajaran Pengantar Hukum Indonesianya jangan dibawa tidur ya”.

 

Malu !

Pernyataan seperti itu menandakan tingkat pendidikan tidak selalu mencerdaskan moral. Beberapa hari setelahnya, pernyataan yang mirip tapi tidak kembar juga keluar dari Pejabat sebuah universitas berkelas dunia di wilayah Jogjakarta (nama universitas disamarkan agar mahasiswanya tidak malu punya pejabat semacam ini, HAHA). Hal ini sekaitan dengan mencuatnya kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi universitas tersebut.

 

Pihak kampus pun bergerak melakukan penanganan meskipun dengan malas-malasan, jika tidak ada desakan dari mahasiswa ya sepertinya kasus pelecehan seksual ini dibiarkan saja. Jika tidak digencat media ya tidak bergerak. Inilah bukti bahwa kampus-kampus di Indonesia belum menganggap serius kasus kejahatan seksual semacam ini.

 

Pada kasus lain, salah satu mahasiswi salah satu universitas di Bali juga pernah menjadi korban pelecehan seksual. Penanganan pihak kampus terhadap kasus ini ? HUH, lama ! Setengah ogah-ogahan, setengah tidak punya niat menyelesaikan permasalahan.

 

Inilah momok dunia Perguruan Tinggi Indonesia. Tren dosen mesum sudah menjadi rahasia umum. Korban kejahatan seksual di kampus lebih banyak daripada yang pernah dilaporkan. Ini merupakan fenomena gunung es dengan motif “dosen lebih berkuasa. Berani macam-macam nilainya saya siksa !

 

Cerita-cerita semacam ini tentu saja anonim. Tujuannya takut bermasalah dengan nilai, takut bermasalah dengan dosen, takut bermsalah dengan kampus dan berbagai “bermasalah” panjang lainnya. Artinya, jika bukan untuk melindungi identitas korban, atau bisa juga untuk melindungi idenitas kampus. Seringnya mahasiswa diancam tidak bisa melanjutkan skripsi jika ia menolak ajakan Sang Dosen.  Iki piye… iki piye… niat hati ingin lulus jadi sarjana malah berhadapan dengan moral neraka.

 

Padahal sejatinya Perguruan Tinggi merupakan tempat pendidikan dan pengajaran. Bukannya tempat mengiming-imingi kelulusan melalui kebejatan. Dosen yang seharusnya menjadi sosok yang digugus dan ditiru, malah mewarisi anak didiknya dengan nestapa berkepanjangan. Bayangkan jika kejadian-kejadian seperti ini tetap dibiarkan, kejahatan seksual akan menjadi wabah “kucing dan ikan” alias akan selalu ada mental kucing yang mewajarkan tindakan-tindakan kejahatan seksual.

Selamat datang di era revolusi kejahatan seksual Indonesia ! Korban dijadikan penjahat, penjahat diberikan perlindungan. THE REAL UPSIDE DOWN WORLD.

 

Di Amerika, penegakan hukum terhadap korban kejahatan seksual sudah tidak lagi melihat riwayat seksualitas korban. Di Indonesia ? aparat penegak hukumnya pun ikut-ikutan victim blaming, bahkan dalam beberapa kasus hakim menilai rendah keterangan korban karena riwayat seksualitasnya.

 

Sudah menjadi rahasia publik jika korban kejahatan seksual selalu disalahkan, dihilangkan hak-haknya secara kolektif, dikucilkan dan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Pernyataan-pernyataan seperti “kamu orgasme tidak ? Oh berarti kamu menikmati” atau “Baju apa yang kamu pakai saat kejadian ?”. Tolong pemikiran-pemikiran abad 18-an seperti itu dibumi hanguskan !

 

Pertama, salah seorang korban pernah berbicara dalam diskusi yang dilakukan Matthew Atkinson, seorang Sexual-Response Professional dan penulis “Resurrection After Rape” mengungkap cerita mengenai banyak sekali korban kejahatan seksual yang mengalami orgasme. Salah satunya berkata, “Saya adalah seorang korban kejahatan seksual saat muda. Saat kejadian itu saya berteriak dan tidak sedikitpun berhenti melawan, tetapi saya terkejut saat menemukan diri saya mengalami orgasme”. Hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah, bahwa orgasme adalah reaksi alami tubuh dan bukan berarti korban menikmati kejahatan seksualnya !

 

Kedua, tidak ada hubungan antara pakaian korban dengan tindak kejahatan seksual. Rape Victims’ Clothing on Display di Belgian merupakan museum yang memperlihatkan baju-baju korban kejahatan seksual dan TIDAK SATUPUN BAJU YANG TERPAJANG merupakan BAJU SEKSI.

 

Jelas, presepsi buruk mengenai korban, banyaknya moral ‘kucing’ di Indonesia dan rendahnya kualitas penegakan hukum terhadap kejahatan seksual menjadikan kejahatan ini seolah-olah budaya bangsa yang dengan mudahnya diberikan pembenaran. Hal inilah yang menjadi trauma bagi korban kejahatan seksual terhadap sistem hukum. Barangkali hal ini pula lah yang menyebabkan para korban kejahatan seksual di kampus enggan untuk membuat laporan. Sebab saat mereka yang melaporkan suatu tindak kejahatan, malah mereka yang diadili.

 

Saya, kalian, dan siapapun elemen masyarakat barang kali pernah memfasilitasi pelaku kejahatan seksual dengan berfikiran negatif terhadap korbannya, bukan pelakunya. Mari kita ubah stigma ini, kita semua harus memberikan suara bagi para korban: mereka adalah korban dan jangan paksa mereka untuk merasa malu mengungkap kebenaran !

 

 

Sumber:

  • Choky R. Ramadhan. Reforming Indonesian Rape Law: Adopting U.S Rape Shield Law in Excluding Prejudicial Evidence. Indonesia Law Review.
  • Jenny Morber. What Science Says About Arousal During Rape.
  • Piage Tutt. Orgasm During Sexual Assault: The Science Behind Sexual Arousal During Rape.
Posted in Uncategorized
Write a comment